بسم الله الرحمن الرحيم

Rabu, 21 Desember 2011

Pengantar Ilmu Hadits

Sumber: http://penuntutilmu.com/pengantar-ilmu-hadits/


Bait Syair 1 dan 2
Pengantar Ilmu Hadits

Sesungguhnya segala pujian hanya untuk Allah. Kami memuji kepada-Nya, meminta pertolongan hanya kepada-Nya dan meminta ampunan hanya kepada-Nya. Kita berlindung kepada-Nya dari kejelekan jiwa-jiwa kita dan kejelekan amalan-amalan kita. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, niscaya tidak ada yang sanggup menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi hidayah kepadanya. Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. amma ba’du:

Definisi Ilmu Musthalah Al-Hadits
Ilmu musthalah al-hadits biasa juga dinamakan ilmu al-hadits atau ilmu ar-riwayah atau ilmu ushul ar-riwayah. Mengenai definisinya, As-Suyuthi rahimahullah di awal Tadrib Ar-Rawi menyebutkan beberapa definisi di kalangan ulama. Dan setelah beliau menyebutkan semuanya, beliau kemudian menukil ucapan Al-Hafizh Ibnu Hajar dimana beliau berkata, “Definisi yang paling tepat untuk ilmu hadits adalah dikatakan: Ilmu untuk mengetahui kaidah-kaidah yang dengan kaidah-kaidah ini bisa diketahui keadaan ar-rawi (periwayat) dan al-marwi (lafazh yang diriwayatkan). ” Semisal dengan definisi dari Ibnu Juma’ah yang juga dinukil oleh As-Suyuthi, dimana beliau berkata, “Ilmu hadits adalah sebuah ilmu yang berisi kaidah-kaidah yang dengannya bisa diketahui keadaan sanad dan matan (redaksi hadits).”
Dari kedua definisi di atas, kita bisa mengetahui bahwa pokok pembahasan ilmu hadits adalah sanad dan matan hadits. Sementara manfaat dari ilmu hadits ini adalah agar seseorang bisa membedakan mana hadits yang bisa diterima dan mana hadits yang harus ditolak.

Sejarah Ringkas Perkembangan Ilmu Hadits
Setiap orang yang mempelajari ilmu hadits ini harus mengetahui bahwasanya semua landasan dan aturan mendasar dari ilmu riwayat dan penukilan kabar itu sudah termaktub dalam Al-Qur`an dan sunnah. Di dalam Al-Qur`an Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam juga telah bersabda:
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ
“Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar sesuatu dariku kemudian dia sampaikan sebagaimana dia mendengarnya, maka bisa jadi orang yang disampaikan kepadanya itu lebih faham (tentang hadits itu) daripada orang yang mendengarnya (secara langsung)”. (HR. At-Tirmizi no. 2581 dari Ibnu Mas’ud)
Dalam riwayat lain:
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ
“Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengar hadits dariku lalu menghafalnya dan menyampaikannya kepada orang lain. Karena terkadang orang yang membawa fiqhi (hadits), dia menceritakannya kepada orang yang lebih faqih darinya, dan terkadang orang yang membawa fiqhi itu sendiri itu bukanlah orang yang faqih.” (HR. Abu Daud no. 3175, At-Tirmizi no. 2580, dan Ibnu Majah no. 226 dari Zaid bin Tsabit)

Dalam ayat dan hadits di atas terdapat landasan awal dari kewajiban meneliti dan memeriksa sebuah kabar sebelum kabar tersebut diterima. Juga menjadi landasan dalam hal bagaimana cara memeriksanya, memperhatikannya, menghafalnya, dan berhati-hati dalam menyampaikan kabar tersebut kepada orang lain.

Dan sebagai perwujudan dari perintah Allah dan Rasul-Nya ini, para sahabat radhiallahu anhum senantiasa melakukan tatsabbut (mengecek kebenaran) dalam menukil dan menerima sebuah kabar, terlebih lagi jika mereka meragukan kejujuran orang yang membawa kabar tersebut. Maka dari sisi inilah muncul pembahasan mengenai sanad sebuah kabar dan bagaimana pentingnya kedudukan sanad dalam menerima atau menolak suatu kabar.

Disebutkan dalam Muqaddamah Shahih Muslim dari Muhammad bin Sirin bahwa beliau berkata, “Dahulu, mereka  tidak pernah mempertanyakan mengenai sanad suatu hadits. Tapi tatkala fitnah (kekacauan) telah terjadi , mereka sudah mulai bertanya (kepada orang yang menceritakan hadits), “Sebutkan kepada kami rijal (para penukil hadits) kalian. Maka dilihatlah orang yang disebutkan; Jika rijal yang dia sebutkan adalah ahlussunnah maka diterima hadits mereka, tapi jika yang disebutkan itu adalah ahli bid’ah maka tidak diterima hadits mereka. “

Untuk membaca kelanjutan pembahasannya, silakan berlangganan.