بسم الله الرحمن الرحيم

Senin, 26 Desember 2011

Pengajian Sembunyi-Sembunyi, Tanda Kesesatan

Sumber: http://ustadzaris.com/pengajian-sembunyi-sembunyi-tanda-kesesatan

Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Jika engkau melihat ada sekelompok orang yang berbisik-bisik membicarakan masalah agama tanpa ingin diketahui orang lain maka ketahuilah bahwa mereka itu di atas landasan kesesatan” (Riwayat Darimi no 307).
Sungguh tepat apa yang diungkapkan oleh seorang ulama sekaligus umara (penguasa) ini. Kita jumpai di sekeliling kita bahwa orang-orang yang menyebarkan pemahaman yang menyimpang biasanya memilih metode dakwah secara sembunyi-sembunyi supaya bisa berhasil menyerat mangsa yang biasanya adalah orang-orang yang memiliki latar belakang pengetahuan agama yang pas-pasan.
Untuk ‘ngaji’ ada yang harus ditutup matanya terlebih dahulu. Ada juga yang bergerilya dari satu kamar kos ke kamar kos yang lain. Anehnya ketika ‘ngaji’ pintu kamar kos harus ditutup rapat-rapat bahkan jika perlu semua alas kaki harus dimasukkan demi alasan ‘keamanan’. Ada juga yang merahasiakan siapa sebenarnya ketua ‘pengajian’ mereka. Belum tiba saatnya, demikian alasan yang diajukan. Umumnya ‘pengajian’ semisal itu tidak berani diadakan secara terbuka di masjid umum. Ujung-ujungnya ‘anak-anak ngaji’ tersebut didoktrin dengan berbagai pemahaman yang menyimpang.
Bukankah ajaran agama kita itu sesuai dengan fitrah manusia?! Jika memang demikian mengapa mesti takut menyampaikan kebenaran tersebut di tengah-tengah kaum muslimin? Bukankah itu malah menjadi pertanda bahwa mereka membawa pemahaman yang ‘unik’, lain dari pada yang lain. Benarlah apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan.
Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ
“Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang menampakkan kebenaran. Tidaklah masalah bagi mereka adanya orang-orang yang tidak mau menolong mereka. Demikianlah keadaan mereka sehingga datanglah ketetapan Alloh (baca:hari Kiamat)” (HR Muslim no 5059).
Hadits ini mengisyaratkan bahwa metode dakwah yang dijalankan oleh para pengusung kebenaran semenjak masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga akhir zaman nanti adalah dakwah dengan terang-terangan dalam menyampaikan kebenaran. Tidak ada yang ditutupi dalam dakwah mereka.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِى إِلاَّ هَالِكٌ
“Sungguh kutinggalkan kalian di atas agama yang terang, malamnya bagaikan siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya sepeninggalku kecuali orang yang binasa” (HR Ibnu Majah no 43 dari Irbadh bin Sariyah, dinilai shahih oleh al Albani).
Yang dimaksud denga ‘baidha’ dalam hadits di atas sebagaimana penjelasan Muhammad Fuad Abdul Baqi adalah agama dan argumen yang terang dan jelas yang tidak mengandung kesamaran sama sekali.
Jika demikian, mendakwahkan agama ini tidak perlu tertutup.
Beralasan bahwa dulu di awal dakwah, Nabi mempergunakan metode sembunyi-sembunyi sungguh tidak tepat.
Pertama, semenjak dakwah dengan terang-terangan, Nabi tidak pernah lagi sembunyi-sembunyi dalam dakwah.
Kedua , berdalil dengan hal di atas itu mungkin tepat jika dakwah dilakukan di tengah-tengah masyarakat kafir yang menekan dakwah Islam.
Sedangkan dakwah sembunyi-sembunyi di tengah-tengah masyarakat Islam hanyalah awal kesesatan.

Index Komentar dari http://ustadzaris.com/pengajian-sembunyi-sembunyi-tanda-kesesatan

Oktober 24, 2009 at 5:40 AM Ummu hindun berkata:
Ustadz, seperti HTI, tarbiyah, kan terang2an juga. Knp mreka brani trang2an padahal tidak sesuai fitrah?


Oktober 24, 2009 at 8:33 AM ustadzaris berkata:
Untuk Ummu Hindun
Tolak ukur pengajian yang sesat bukan hanya ‘sembunyi-sembunyi’, ada tolak ukur yang lain.
Sehingga tidak menutup kemungkinan pengajian yang sesat dilakukan secara terang-terangan karena mereka sudah merasa punya banyak massa, punya backingan yang kuat atau sebab yang lain.


Oktober 24, 2009 at 1:56 PM abu hanifah alim berkata:
namun masih banyak pula sebagian masyarakat yang masih menganggap dakwah salaf yang penuh barakah ini dakwah yang sesat, mungkin karena kebanyakan mereka terbiasa dengan tradisi-tradisi mereka, sehingga ketika dakwah salaf ini masuk kepada mereka, merekapun menganggapnya dakwah baru dan dakwah yang sesat karena menyimpang atau menyelisihi kebiasaan mereka,
lucu jadinya ustadz ya…, dakwah yang haq dibilang sesat akan tetapi justru dakwah yang menyimpang malah dianggap benar,


Oktober 24, 2009 at 3:35 PM abu shafiyyah berkata:
Ustadz, bagimana dengan Wahdah Islamiyyah, yang juga menggunakan cara pengajian sistem kelompok kecil2 ( bahasa kami dulu LIQO’ / pertemuan , atao mentoring….namun mereka mengaku berjalan diatas manhaj Salaf??Bagaaimana pendapat Ustadz…jazakumullohu khairon


Oktober 24, 2009 at 5:56 PM amir berkata:
# ummu hindun
kajian yg dilakukan oleh HTI, tarbiyyah (PKS), yang dilakukan secara terang2an umumnya kajian dg materi yg “umum” yang insyaLLAh telah ma’ruf dipahami oleh umumnya kaum muslimin (walaupun banyak kajian2 tersebut yg tidak sesuai dg sunnah). akan tetapi mereka memiliki banyak kajian yg masih sembunyi2 (baik dalam liqo’/halaqoh/rapat2 mereka) yang hanya dihadiri oleh anggota/pengurus/petinggi mereka, dan umumnya berisi ttg “taktik” dalam perekrutan anggota baru/kaderisasi organisasi, masalah taktik politik, maupun doktrin2 agama pada kelompoknya yg jika diketahui oleh orang/kelompk lain maka akan terbongkar hakikat dakwah mereka yg sebenarnya (sesat)…
sungguh benar apa kata Khalifah Umar bin Abdul Aziz yg disebutkan dalam artikel di atas, “Jika engkau melihat ada sekelompok orang yang berbisik-bisik membicarakan masalah agama tanpa ingin diketahui orang lain maka ketahuilah bahwa mereka itu di atas landasan kesesatan”


Oktober 25, 2009 at 7:27 AM Rizki Mula Saputra berkata:
Assalamualaikum,
Ustadz, tolong bimbing polisi kita untuk membedakan ahlusunnah dengan khwaraij, soalnya pakaian, jenggot, bahkan beberapa yang kitab ulama yang dibahas memiliki banyak kesamaan. Misal : MMI ternyata juga membahas Tsalasatul Ushul dan lainnya !
Jazakumullahu khairan


Oktober 25, 2009 at 8:18 AM Ibnu Shalih berkata:
[OOT: Out of Topic]
Assalaamu’alaykum yaa ustadzunaa. ana ingin bertanya:di majlis yang antum asuh tadi (At-Tibyan) ada beberapa pertanyaan yang terlintas di benak ana:
1. Tadi antum katakan-ringkasnya-kalau talqin untuk mayit cukup sampai mayit mengucapkan kalimat tauhid, jika sudah, maka talqin dihentikan dan tidak boleh talqin terus menerus? apa alasannya?
2. Apakah lebih utama membaca doa kafaratul majlis dengan jahr?
3. Tadi antum katakan-ringkasnya-sebagian imam masjid membaca surah al-kafirun dan al-ikhlash sebagai kebiasaan pada shalat maghrib, dan ini perlu jadi perhatian. apakah ini bisa menjadi bid’ah? kalau bisa, kapan hal tersebut (membiasakan hal ini) dapat menjadi bid’ah? Jazaakalloh khoiron.


Oktober 25, 2009 at 9:05 AM ustadzaris berkata:
Untuk Ibnu Shalih
Wa’alaikumussalam
1. Karena tujuan talqin adalah agar kalimat terakhir yang dia ucapkan adalah la ilaha illalloh.
2. Jika tujuannnya adalah mengingatkan orang lain agar juga mengucapkannya maka jahr itu lebih afdhol.
3. Bahkan selalu membaca qishor mufashol dalam sholat maghrib hukumnya bid’ah sebagaimana disebutkan dalam Fiqh Sunnah.
Saya sarankan, pertanyaan yang bisa disampaikan di majelis sebaiknya ditanyakan di majelis saja.


Oktober 25, 2009 at 9:37 AM ustadzaris berkata:
Untuk Rizki
Wa’alaikumussalam
Mengkaji tsalatsatul ushul belum tentu ahli sunnah sebagaimana ahli sunnah mengkaji al Qur’an dan ahli bid’ah juga menkaji al Qur’an.


Oktober 25, 2009 at 2:36 PM ustadzaris berkata:
Untuk Abu Shofiyyah
Pada asalnya ngaji dengan sistem kelompok kecil itu tidak bermasalah. Jika kita menyalahkannya maka kita harus menyalahkan pengajian dengan sistem privat untuk belajar baca al Qur’an, bahasa arab atau yang lainnya.
Yang benar, yang bermasalah dalam sistem liqo adalah:
1. pengajar, siapakah yang menjadi pengajar, orang yang berilmu ataukah tidak. Tidak selayaknya kita belajar kepada orang yang tidak berilmu.
2. materi yang diajarkan. Dalam kenyataannya materi apakah yang diajarkan sesuai dengan manhaj ahli sunnah ataukah bertentangan dengan manhaj ahli sunnah dalam beragama.
3. tujuan di balik liqo. apakah tujuan dibalik liqo itu sekedar menebarkan ilmu ataukah membuat ikatan hizbiyyah/faham kekelompokan dengan adanya baiat atau mempersempit ikatan ukhuwwah islamiyyah atau membatasi kebenaran hanya ada pada mereka atau ustadz-ustadz mereka saja.


Oktober 25, 2009 at 8:29 PM Ibnu Shalih berkata:
Jazaakalloh khoir untuk jawaban antum, sekarang telah jelas, alhamdulillah. Dan terima kasih juga untuk saran ustadz.


Oktober 26, 2009 at 10:15 AM abu muhammad berkata:
assalamu’alaykum…
ustadz, di kampus ana kan biasanya ada kelompok-kelompok liqo’ yang mana hal ini diurus oleh orang-orang PKS dan sudah terlembaga di kampus dengan nama Asistensi Agama Islam (AAI). biasanya yang wajib mengikuti adalah para mahasiswa baru selama 1 semester. gimana mengatasi hal ini ustadz supaya para mahasiswa baru tidak terjerembab dalam liqo’-liqo’ yang ajarannya bukan ahlus sunnah ini?
jazakallahu khoyron


Oktober 26, 2009 at 11:00 AM Abuzaid Muhammad berkata:
Ustadz barakallahu fik…
berarti jika :
1. Yang mengajar orang yang berilmu;
2. materi yang diajarkan sesuai dengan manhaj ahli sunnah dalam beragama;
3. tujuan iqo itu untuk menebarkan ilmu, memperluas ikatan ukhuwwah islamiyyah dan tidak membatasi kebenaran hanya ada pada mereka atau ustadz-ustadz mereka saja.
berarti liqo tersebut “tidak bermasalah” ya….
Jazakalahu Khairan


Oktober 26, 2009 at 11:33 AM ustadzaris berkata:
Untuk Abu Zaid
Benar, tidak bermasalah jika tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi.


Oktober 26, 2009 at 11:38 AM ustadzaris berkata:
Untuk Abu Muhammad
Wa’alaikumussalam
Jika teman-teman ahli sunnah bisa menjadi pemateri sehingga bisa mengurangi ‘bahaya’ yang dikhawatirkan tentu suatu hal yang baik. Dengan catatan, kita tidak menjadi ‘korban’ jika masuk dalam lingkungan mereka.


Oktober 29, 2009 at 9:19 AM abdullooh berkata:
UStadz Aris ini benar2 tidak paham waqi’ ya. Lha klo kajiannya menjelaskan kekafiran pemerintah murtad RI ya klo seandainya sembunyi-sembunyi karena khawatir ditangkap, secara logika wajar sekali. Antum itu klo pake argumen salaf harus disesuaikan dengan realita kekinian. Sekarang kan realita kita beda dengan jaman salaf yang mereka di bawah pemerintah muslim. Tapi sekarang … Klo antum menilai pemerintah yang ada sekarang juga muslim maka antum harus periksakan akal antum. Tapi semoga aja antum tidak seperti itu.


Oktober 29, 2009 at 10:05 AM ustadzaris berkata:
Untuk Abdulloh
Pengajian seperti itulah pengajian sesat yaitu sebuah pengajian yang isinya ghuluw fit takfir (berlebihan-lebihan dalam memvonis kafir pihak lain).
Bukankah pemerintah di zaman Imam Ahmad menganut faham kekafiran yaitu al Qur’an itu makhluk meski demikian Imam Ahmad tidak mengkafirkan pemerintahan yang ada.
Tidak semua yang melakukan kekafiran itu otomatis menjadi kafir.
Bagaimana jika hal itu bukan kekafiran namun sekedar dianggap sebagai kekafiran padahal bukan?!


Oktober 30, 2009 at 5:45 AM abu abyan berkata:
iya tad, nabi berdakwah scr smbunyi2 krn ada tekanan dr kaum musyrikin. kl skrng penghalang (tekanan) itu sdh tdk ada. kl menurut ana dakwah sembunyi2 pada saat ini malah banyak mudharatnya. jazakallah khoiran


Oktober 30, 2009 at 10:38 PM Dini berkata:
Assalamu’alaikum Ustadz…ana gak setuju Liqo PKS dibilang sesat…materi yg disampaikan sesuai Qur’an dan Sunnah..ana lihat perbedaannya terletak pada masuk politik atau enggak.., berkecimpung di wilayah politik sendiri kan masalah ijtihadi..bukan sebuah bid’ah atau penyimpangan dari sunnah..kenapa kelompok yg menamakan dirinya ahlussunnah ini tidak saling menghormati saja perbedaan dalam masalah ijtihadi ini…toh niat dan tujuannya kan sama2 berdakwah menegakan syariah Islam ..wassalam..jazakalloh.. afwan


Oktober 31, 2009 at 4:46 PM ustadzaris berkata:
Untuk Dini
Wa’alaikumussalam
Sebelum berkomentar lebih lanjut tentang masalah ini keterangan berikut ini perlu diperhatikan.
Gerakan Tarbiyyah di Indonesia (yang sekarang berubah menjadi PKS) memiliki dua jenis liqo.
1. Liqo jenis pertama disebut liqo, pembinanya disebut murobbi
Orang yang mengikuti liqo jenis ini terdiri jenis manusia:
a. tamhidi atau disebut kader mula
b. Muayyid atau kader muda. Seorang yang sudah sampai tingkat muayyid bisa diangkat menjadi seorang murobbi.
Seorang yang telah menjadi muayyid akan dipilih untuk mengikuti acara muayasah (semacam kajian matrikulasi). Orang yang telah melalui muayasah akan dibaiat, sumpah setia terhadap gerakan IM yang berpusat di Mesir. Baiat ini disebut juga Sumpah Setia Kader Inti Partai.
Setelah dibaiat kader ini akan mendapatkan liqo khusus yang disebut liqo usari.
2. Liqo Usari, pembinanya disebut naqib
Orang yang boleh mengikuti liqo ini adalah tiga jenis kader:
a. muntasib atau kader madya
b. muntazhim atau kader dewasa
c. kader ahli
Dalam liqo usari setelah tilawah terdapat kultum singkat yang disampaikan sang naqib terus dilanjutkan bahasan tentang masalah-masalah politik.


November 1, 2009 at 2:07 PM SYAM berkata:
Assalamualaikum ustad, dri pemaparan tntang bentuk liqo pks d atas, 1> mhon dperinci lg bntuk ksalahanya, dan bgaimana bntuk yg menurut ustad lbih benar dan baik kalo pks ingin melakukan bntuk pembinaan lbh dkat dan intensif untk tiap mad’u nya? apa yg hrus dtambah dan apa yg hrus dhlangkan?
2>kdang kta dlm yayasan/organisasi dakwah ttt ingn menentukan seorang mad’u untk sbuah amanah dakwah, bolehkah scra diam2 meminta kpada pihak madu tsb tnpa dketahui madu lain krn tdk da urgensinya ato
utk mghndari iri hati? ato sbaikny gmana ustad?
3> ni hal lain ustad. bbrapa wakt lalu sy menemukan tlisan lafal Allah d kran whudu masjid yg alami dr Alam, bolehkah sy membritahukan k org laìn? krn sy tkut jd fitnah
jazakallah khoiron.. maaf ustad.


November 1, 2009 at 5:16 PM ustadzaris berkata:
Untuk Syam
Wa’alaikumussalam
Sebagian bentuk liqo tersebut bersifat sembunyi-sembunyi. Demikian pula baiat yang ada di dalamya adalah baiat bid’ah yang harus dihilangkan.


November 7, 2009 at 12:45 PM Abu Nu'man berkata:
Betuul Ustadz…!!!
Jawaban Antum sangat jelas dan gamblang guna menjawab pertanyaan saudara kita abdullooh, perlu di ingat kaedah :”Hendaknya kita merujuk perkara agama, oleh para generasi terbaik sebelum kita !! yaitu para sahabat, tabi’in,dan para salafus sholih..!


November 30, 2009 at 4:42 PM agus berkata:
assalamu’alaykum
Ustadz, saya masih benar2 awam tentang Islam. Mohon kejelasannya, yang dinamakan ahlus sunnah itu apakah harus bermanhaj salaf? Karena setau saya ada juga salah satu ormas Islam yang ada di Indonesia ini yang mengaku ahlus sunnah juga. Bagaimana membedakan dengan mereka?

Oia, beberapa kali saya pernah ikut kajian yg diadakan oleh Pakis di Al Hasanah dan di MPR. Apakah sama juga kajian salaf ?
Oia, bagaimana dengan Abu Bakar Ba’asyir?




Desember 1, 2009 at 7:31 AM ustadzaris berkata:
Untuk Agus
Ya, ahlus sunnah itu harus bermanhaj salaf. Pengakuan semata tidak cukup. Yang penting bukti.
Tentang ABB bisa antum baca di link-link berikut ini
http://basweidan.wordpress.com/2009/11/21/ketika-umat-dilanda-fitnah-2/
http://basweidan.wordpress.com/2009/11/16/ketika-umat-dilanda-fitnah-1/
http://basweidan.wordpress.com/2009/11/03/lika-liku-menggapai-hidayah-2/


Desember 24, 2009 at 9:31 PM hardi berkata:
ASSALAMUALAIKUM WR. WB
SEMOGA KITA SEMUA SENANTIASA DALAM LINDUNGAN 4JJI SWT.
KALAU SAYA PRIBADI MEMANDANG, KESESATAN ITU BISA SAJA DI TUJUKAN PADA GOLONGAN ATAU KELOMPOK TERTENTU, TAPI TENTUNYA YANG BERHAK KAN PARA ULAMA, DAN MASING2 KELOMPOK/JAMAAH KAN PUNYA ULAMA,DAN MASING2 ULAMA PUNYA LATAR BELAKANG YANG BERBEDA (PENDIDIKAN, GEOGRAFIS,KEPRIBADIAN). JADI APAKAH WAJAR ULAMA TERTENTU MENGHAKIMI ULAMA YANG LAIN SELAMA MASIH MERUJUK PADA QURAN DAN SUNNAH. SETIAP KELOMPOK BOLEH SAJA MEYAKINI BAHWA MEREKA BENAR, TP BISA JADI 4JJI BERKEHENDAK KELOMPOK LAIN LEBIH BAIK.
DAN TENTUNYA KELOMPOK/JAMAAH  YANG ADA SAAT INI ADALAH JAMAAH MANUSIA YANG PENUH DENGAN KHILAF, DAN TENTU SAJA BANYAK PELUANG SALAH DAN DOSA. DAN SAYA YAKIN DI MASING2 JAMAAH ADA YANG BAIK DAN ADA PULA OKNUMNYA, SEMUA ORANG BISA SEMBUNYI DI BALIK JENGGOT DAN JUBAH, TAPI SEMUA HAL YANG DITUTUPIPUN AKAN TERLIHAT OLEH 4JJI. HTI, PKS, SALAF/I,DLL HANYALAH SEBUAH NAMA YANG DIGUNAKAN SBG IDENTITAS, JADI BUKAN SEBUAH PEMBENARAN SEPIHAK DARI SEBUAH NAMA.
KALAU DAKWAH INI INGIN CEPAT TERSEBAR URUSLAH ORANG2 YANG SAMA SEKALI BELUM TERSENTUH OLEH DAKWAH, BIARKANLAH MASING BERJUANG DENGAN CARA YANG DIYAKINI PALING BENAR DAN JADILAH SEORANG MUSLIM YANG BIJAK DAN BERAKHLAK MULIA. RASULULLOH SAJA MASIH MENUNJUKKAN AKHLAK MULIANYA MESKIPUN BERHADAPAN DENGAN YAHUDI BUTA. MENGAPA KITA MESTI MENUNJUKKAN AKHLAK YANG TERCELA TERHADAP SESAMA MUSLIM?
“JANGANLAH KAMU MEMAKAN BANGKAI SAUDARAMU”
“BISA JADI BIDAH YANG PALING BESAR ADALAH MEM-BIDAH KAN SESUATU YANG TERNYATA BUKA BIDAH DISISI 4JJI”
WALLAHU A’LAM BISH-SHOWAB


Desember 25, 2009 at 11:54 AM ustadzaris berkata:
Untuk Hardi
Di buku apa saya bisa mendapatkan riwayat tentang kisah nabi dengan Yahudi yang buta?
Memang membid’ahkan yang bukan bid’ah adalah suatu hal yang berbahaya,
namun apa salahnya dengan membid’ahkan suatu yang memang bid’ah?
Apakah kita biarkan JIL mendakwahkan Islam versi mereka?
Apakah kita biarkan Ahmadiyyah mendakwahkan Islam versi mereka?
BIARKANLAH MASING BERJUANG DENGAN CARA YANG DIYAKINI PALING BENAR?
Salafi itu sifat dan bukan nama identitas.
Anda itu salafi jika memenuhi sifat seorang salafi.


Desember 26, 2009 at 10:20 PM sa'adah berkata:
asslmkum ustadz, sya dah bbrp bulan ni ikut liqo, tpi sya benar2 masih bingung ktk sy diajak bcr ttg “kaum salafi” itu sebenernya aliran ataw yg bagaimana? mohon penjelasannya. jazakalloh….


Desember 26, 2009 at 11:49 PM ustadzaris berkata:
Untuk Sa’adah
Wa’alaikumussalam
Tolong baca tulisan yang ada di link berikut ini
http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/manhaj-tanya-ustadz/makna-salaf-dan-salafi/#more-1393


Januari 12, 2010 at 5:30 AM samsul berkata:
afwan semakin jelas ya ustad, umat Islam lebih mudah menyalahkan orang lain daripada melihat kekurangannya sendiri, mungin ini yang menyebabkan ukhuwah Islamiyah tak pernah terbentuk, karena masing2 menganggap yang paling benar.Inikah caraberIslam yang benar?


Februari 15, 2010 at 12:48 AM Khusnul berkata:
Aslmkum wrwb ustad, sy pernah di bai’at NII tp sy ragu dgn mereka krn pengajiannya dilakukan secara sembunyi”, dan sy jg dilarang ngaji dit4 lain. Jd klo sy melanggar bai’at tsb dgn keluarnya sy dr NII hukumnya bgmn? Kemudian apakah kt jg diwajibkan utk hdp di negara islam? Apakah ada dalilnya? Trma ksh


Februari 15, 2010 at 10:18 PM ustadzaris berkata:
Untuk Khusnul
Harus anda langgar karena itu adalah baiat yang bid’ah, setelah itu bayarlah kaffarah sumpah.


Maret 22, 2010 at 3:42 PM abu ahmad berkata:
assalamu alaikum
ustadz..
apakah khawarij itu sudah kafir ?
apakah tuduhan kita sudah tepat 100 % bahwa golongan yang sepemahaman dengan ABS khawarij ?
sukron


Maret 23, 2010 at 7:58 AM ustadzaris berkata:
Untuk Abu
Ulama berselisih pendapat apakah khawarij itu sudah kafir ataukah belum. Pendapat yang paling kuat mereka belum kafir.
Cermati pengertian khawarij sebagaimana yang disampaikan oleh as Sahrastani di link berikut ini:
http://abumushlih.com/antara-wahabi-dan-teroris.html/#more-1598


Juli 27, 2010 at 1:45 PM Edi mulyana berkata:
saya sdh 2 th liqo pks,hasil dari liqo itu alhamdulillah saya jadi rajin sholat berjamaah di mesjid,sholat tahajud,sholat dhuha,tilawah min 1 juz/hari,shaum sunah,dll. murobi sy seorang tahfidz qur’an,LC di fak.hadist madinah. sedikit pun sy tdk diajarkan sesuatu yg melenceng dari qur’an&sunah,tdk pernah di ajarkan mengkafirkan dan menyesatkan org lain. apakah ini yg antum bilang sesat..?,saran ana sblm antum mengomentari sesuatu maka antum mesti tahu dulu scr lengkap. jgn sampai antum mengkafirkan/menyesatkan apa yg tdk alloh sesatkan.


Agustus 1, 2010 at 9:45 AM ustadzaris berkata:
untuk edi
Coba baca di sini:
http://pkswatch.blogspot.com/
http://abumushlih.com/mabuk-kekuasaan.html/


Oktober 21, 2010 at 5:04 AM Iwan berkata:
Afwan, saya dulu tidak kenal Islam dengan baik. Setelah Liqo dg PKS Alhamdulilah saya lebih paham tentang ISLAM lebih luas termasuk perjuangan Islam.
Saya dulu ditawari ngaji teman ke salafi, tetapi saya lihat kolot dan mementingkan kelompoknya. Tidak pernah berfikir bagaimana agar Islam di Indonesia ini menjadi lebih baik, kecuali bagaimana agar hidup ini tidak bid’ah.
Mungkin kalau saya ikut kajian salafi saya tidak lulus kuliah dan saya ikut menggunjingkan orang lain seperti Antum. Saya merasa tidak sempurna setiap gerakan dakwah pada masa kini. Yang perlu ada yaitu saling menghormati dan menjaga ukhuwah Islamiyah.
Sejak saya ikut liqo, saya sering membaca tulisan tentang bid’ah yang selalu diarahkan ke PKS dari teman2 salafi. Dan saya renungkan, apakah salafi itu betul2 suci dari bid’ah sehingga berani berbuat seperti itu? Ataukah tidak sadar kalau perbuatan seperti itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw.
Urusan amal serahkan kepada Allah swt, kita sibukkan diri kita dengan ibadah dengan apa yang kita yakini sesuai sunnah.
Saya sering menrung:
1. Apakah PKS itu mencemari dakwah salafi, sehingga salafi getol memeranginya?
2. Apakah salafi punya program dakwah yang terpadu dan punya target? ataukan hanya sebuah aktifitas dari ngaji ke ngaji dan hidup ditengah2 masyarakat serta numpang enak dari kemajuan dan perubahan kebaikan di lingkungannya?
3. Bagaimana konsep Rahmatan lil ‘alamin yang dikembangkan dan ditebarklan gerakan salafi?
pkswatch sudah pernah saya baca. Saya yakin PKS ada kekurangan dan kesalahan itu adalah fakta karena itu kumpulan manusia. Tidak semua yang ada di pkswatch adalah sebuah kenyataan dan kebenaran, ada yang dilebih-lebihkan dan dilandasi motivasi yang tidak ikhlas untuk kebaikan. Dan antum tangkap sebagai bahan dalam kajian dan tulisan. Na’udzubillahi min dzalik.
Usaha untuk tetap eksis dalam dakwah ditengah2 kekacauan moral masyarakat sekarang ini tentu tidak mudah untuk bersih murni seperti yang teman2 salafi pahami.
Jika antum sesuai sunnah Nabi, tentunya tidak ikut pakai internet seperti ini. Antum akan beralasan inikan bukan bid’ah, karena bukan ibadah dan tidak sembunyi-sembunyi.
Padahal antum yakin dan tahu gambar ada manusia dan wanita di internet tetapi tetap saja berusaha menggunakannya dengan alasan gambar bisa ditutup. Sebenarnya tahu kalau ada gambar manusia dan wanita tetapi kenapa tetap membuka internet (mendekati hal yang diharamkan)?
Saya memang ingin tidak mau melakukan bid’ah tetapi melihat teman2 salafi yang getol anti bid’ah tidak konsisten dan seenaknya penafsiran sendiri jadi bingung juga dan akhirnya semua saya kembalikan kepada Allah swt.
Kita semua sebagai Hamba Allah swt, wajib beribadah dan mencari ridlonya.
Wallahu ‘alam bishshowab.


Oktober 21, 2010 at 12:59 PM ustadzaris berkata:
#iwan
Tentang pemahaman rahmatan lil ‘alamin yang benar bisa dibaca di sini:
http://kangaswad.wordpress.com/2010/02/17/salah-kaprah-memahami-rahmatan-lil-%E2%80%98alamin/


Oktober 22, 2010 at 5:32 AM Iwan berkata:
Jazzakallah khoir. Setelah membaca link yang antum berikan berarti ISLAM itu luas, tidak sempit.
Saya sesuai niat saya dan apa yang saya pahami dengan membaca dan belajar ISLAM dan untuk menebarkannya tetap bersama teman2 non Salafi. Karena saya memang sejak kecil menginginkan / mengimpikan dakwah ISLAM yang lebih luas, bukan hidup secara Islam dengan mengandalkan “lingkungan yang tidak terkendali”. Atau menikmati ISLAM tetapi hanya untuk pribadi dan keluarga atau kelompok saja, dengan membiarkan kemungkaran berlangsung di sekitar kita, karena kita tidak bisa mengingatkan mereka gara-gara bahasa dan kosa kata kita berbeda dengan mereka, atau malah kita menyingkir dari mereka takut menjadi “korban”.
Meskipun teman-teman salafi masih menghujat, semoga meraka mendapat surga dari apa yang mereka kerjakan. Mereka telah menegur dan  mengingatkan saya. Saya juga akan bekerja untuk Allah swt dan berharap untuk menggapai / mendapat surga dengan mengajak orang lain untuk berbuat baik dengan sebaik-baiknya, sesuai AQ & AS, dengan bahasa dan aktifitas yang mereka pahami.
Kata sembunyi yang dilebih-lebihkan dengan menutup pintu, sandal dimasukan mungkin itu bukan untuk PKS. Kalau ada yg begitu itu bukan sebuah kewajiban, mungkin tgt kebutuhan. Saya tidak pernah begitu.
Memang lebih mudah menghujat dari pada mengusahakan agar ada perubahan dari munkar ke yang haq ditengah-tengah masyarakat dengan aktifitas yang luas dan terpadu secara nyata.
Dakwah PKS itu terbuka di tengah-tengah masyarakat dengan bahasa yang masyarakat pahami agar tidak melakukan kemungkaran. Masyarakat Muslim  Indonesia yang ratusan juta dengan dominan masyarakat tingkat kefahaman ISLAM masih minim perlu diselamatkan dan dilindungi dari Pemerintah/ Penguasa. Kita berusaha untuk itu dengan cara yang tentu tidak Antum lakukan, karena cara pandang yang berbeda dan kosa kata yang berbeda.
Apakah dakwah saya seperti itu sebuah kesesatan?
Surga itu luas, dan Rahmat Allah swt juga luas. Cara masuk surga juga banyak, dan semua tgt pada keridloan Allah swt.
Sekecil zarrah kebaikan akan dihitung dan ditimbang dan diberi nilai kebaikan dari Allah swt, bukan dari manusia. Niat ada di hati dan Allah swt yang tahu.
Wallahu a’lam bisshowab.
————– Pertanyaan serius Ustadz —————-
Afwan, Ustadz Aris tolong dipikirkan dan dijawab, tidak dengan memberi link saja:
Bagaimana jika jilbab dilarang (apalagi cadar), bagaimana jika dakwah di TV dilarang, bagaimana jika dakwah via internet dilarang.
Apa yang akan dilakukan untuk itu?
Bagaimana melindungi nasib masyarakat muslim ?



Oktober 22, 2010 at 11:14 AM Aswad berkata:
#iwan
Semoga Allah senantiasa merahmati anda. Yang saya tangkap, anda salah kaprah tentang apa itu Salafi. Anda panjang lebar berkomentar yang agak ‘offensive’ demikian, padahal bisa jadi anda seorang salafi tanpa anda sadari. Silakan simak:
http://kangaswad.wordpress.com/2010/03/18/salah-paham-tentang-salafi-2/


November 11, 2010 at 4:57 PM Ibnu iskandar berkata:
Ustadz kok gk menjawab pertanyaan iwan,…apa gk bisa jawab,…Antum bisa bisa nerbitin majalah dengan mudah ,dakwah lewat internet,mendirikan pesantren,..bukankah ada undang2nya,…lalu siapa yg memperjuangkan undang2 tersebut kalau bukan orang yg berdakwah di parlemen,…contoh kasus UU PORNOGRAFI


November 14, 2010 at 10:10 AM ustadzaris berkata:
#ibnu
Apa benar kemudahan menerbitkan majalah dakwah, dakwah di internet dan kemudahan mendirikan pesantren adalah hasil “perjuangan politik” IM?
Jangan ngaku-ngaku yang nggak-nggak mas.


Desember 31, 2010 at 7:41 PM abu shaqr berkata:
Untuk Iwan semoga diberi hidayah oleh Allah
Kalau saudara benar2 mencermati dan memahami artkel2 yg ust. aris  -smoga drahmati oleh Allah- maka tidak ada keraguan ttg kebenaran  pemahaman dakwah tauhid yg Allah dan RasulNya ajarkan yg tiada ranah  ijtihadiyah d dalamny dan tidak akan ada pertanyaan n pernyataan yg menyelesihinya. Apa2 yg menyelisihi quran n sunnah yg shahih sesuai pemahamn yg benar maka dakwah itu tertolak. Misalnya meninggalkan sebagian syariat islam utk menggapai tujuan kelompok yg antum mnjadi simpatisannya. Sebagai contoh menggunakan hal2 yg berbau maksiat untuk menggalang masa, musbil dan mencukur jenggot demi menyerupai rekan2 kerja dan mencari simpatisan, lebih mengutamakan penggalangan masa (demi kepentingan kelompok antum) daripada hak Allah Rabb alam semesta yg paling utama yaitu tauhid kepadaNya, memusuhi orang2 pembela dakwah tauhid, membiarkan sebagian besar masanya tidak mengenal aqidah yg benar(yg man komposisi politik lbh besar), merencankan pergerakan sembunyi utk memberontak/mencela seenaknya (sesuai hawa nafsu kelompok antum) kepada pemerintah yg jelas sangat dilarang(diharamkan) oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghina ulama2 kaum muslimin yg dengan getol berdakwah tauhid, menjadikan kitab2 rujukan kelompok antum yg didalamnya banyak  sekali terdapat kesalahan dalam hal aqidah, mengkritik pemerintah tidak pada tempatnya(yg mana ini dilarang oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), membirakan penyelewengan, bid’ah, syirik dalam agama demi mendapatkan masa(yg lagi hanya demi kepntingan kelompok antum), mengutamakan hadits dhaif lalu meninggalkan hadits shahih karna bertolak belakang dengan manhaj kelompok antum dan msih ada lgi yang lain.
Cukuplah kita berdakwah dan beramal sesuai tutunan Allah dan rasulNya, ijma para sahabat dan orang2 yg mengikutinya. Seandainya ada yg mngatakan semua kelompok islam berdasarkan qur’an dan sunnah maka itu cuma di lisan. Kenyataannya di lapangan dan buku2 panduan kelompok2 islam salah satunya kelompok antum banyak yang salah.
Semoga Allah Yang Maha Menjelaskan Segala Sesuatu memberikan hidayah dan taufiqNya kepada antum dan para pembaca situs http://ustadzaris.com/ ini.




Februari 2, 2011 at 8:32 PM Ria Ummu Arsya berkata:
بسم الله الرحمن الرحيم…           Utk para ikhwah yang mengaku tlh ikut liqo IM dan salah dlm memahami manhaj salafy, ana hanya ingin sedikit berbagi pengalaman. 2 tahun ana ikut liqoat IM dan aktif sbg kader PKS, dan 2 th juga ana pny profesi sampingan sbg ummahat hobby demo. Memang btl apa yg antum dapatkan di IM bs menambah amal ibadah antum baik itu yg wajib dan sunnah, tapi apakah antum melakukan semua ikhlas? Atau hny sebagai pengisi data recording mingguan? 2 tahun ana ngaji di IM tp hny 1 bab aja yg membahas masalah tauhidulloh, dan ana sama sekali tdk ada perubahan dlm hal akhlak : suka berhias/ngematch pakaian, srg ke mall, pny ashshobiyyah yg tinggi thd partai. Tapi subhanalloh hidayah dtg ke ana yg berawal dr membaca majalah Al Furqon dan As sunnah kira-kira 6 bln yll, mantap meninggalkan jama’ah IM wlp sll mendapat teror, fitnah, dikucilkan oleh anggota partai dan jama’ah IM dll. Ana bukanlah manusia yg sempurna tp ana sangat yakin saat ini berada pada manhaj yg haq


Februari 19, 2011 at 3:31 PM Abu Dzar berkata:
Dalam artikel ini disebutkan nukilan dari Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi.
Mohon dijelaskan biografi beliau? Yang ana tahu beliau adalah penyusun kitab al-Lu’lu’ wal Marjan.
Jazakalloh Khoir.


April 22, 2011 at 6:44 PM abu zhafran berkata:
assalamu’alaykum untuk ikhwah,
saya sudah setahun ikut JT lalu 7 tahun ikut tarbiyah PKS. Apa yang dibilang Ria Ummu Arsya memang benar, 7 tahun saya ngaji di tarbiyah pks, saya tidak bisa sholat dengan benar, saya selalu memotong jengot dan selalu isbal. Memang benar pengajian itu membuat kita semangat dalam beribadah dan memperbaiki umat. Akan tetapi tidak menambah pemahaman saya terhadap agama malah lebih condong untuk lebih berpolitik. Saya sudah naik tingkat juga dalam liqonya, memang benar tingkatan liqo di dalam tarbiyah PKS memiliki level yang berbeda pula. Semakin tinggi levelnya, semakin mereka berani membicarakan mengenai taktik, politik dan lebih specific mendorong anggota liqo kepada pemikiran mereka. Alhasil, 7 tahun pengajian saya tidak mendapatkan apa-apa, kecuali kebingungan-kebingungan bagaimana murobi saya menghalalkan riba, lalu murobi yang lain menghalalkan uang suap dll.
Alhamdulillah, hati saya terbuka setelah membaca muqodimah sifat solat nabi oleh syaikh kita syaikh albani rahimahullahu yang berbicara bagaimana kita tidak taqlid kepada suatu kelompok tertentu atau mahzab tertentu. Alhamdulillah sekarang saya dapat mengikuti kajian2 salaf dan saya percaya bahwa saya berada di manhaj yang benar.


Agustus 10, 2011 at 11:17 PM Abu Aisyah berkata:
Sekedar menambahin pernyataan ikhwah yang masih tarbiyah dan mantan tarbiyah (sudah hijrah ke manhaj salaf).
Saya maklum, kalo ikhwah yang masih ngaji/liqo/usar, merasa nyaman di PKS, merasa ada kebaikan dengan bertambah rajin ibadahnya apalagi bila rajin dimutaba’ah amal yaumiyahnya. Namun begitulah, ibarat ikan yang memandang kolamnya indah, namun dia tak pernah memandang dari tempat lain. Begitu juga ketika kita sudah mengenal manhaj salaf, maka perlahan-lahan pandanagn kita akan ‘manhaj tarbiyah’ akan beda.
Jujur saja, 18 tahun liqo (lama amat ya), dari tamhidi, mu’ayid (masih liqo) dan kemudian muntashib (sudah usar karena sudah baiat), kadang kalo merenung, apa manfaat yang didapat dari kumpul2 setiap pekannya 3 jam itu. Ilmu? sedikit sekali… berapa hadits shahih & dhaif yang telah hafal, berapa perkataan salafus shaleh yang diketahui (sayang sekali, mengikuti salafus shaleh hanya sekedar slogan, karena yang jadi panutan, justru tokoh2 IM, yang kemudian saya ketahui penyimpangan2nya dari perkataan para ulama ahlus sunnah). Amal-amal sunnah memang banyak, namun kesannya kok kayak balapan karena sering dimutaba’ah, dilaporkan ke murabbi/naqib dan disharing ke sesama anggota liqo yang menyebabkan beramal karena mutaba’ah, padahala salafus shaleh banyak yang beramal dengan sembunyi2 untuk menjaga keikhlasannya. Shalat berjama’ah memang dijaga, namun prakteknya kadang kurang prioritas, berapa kali acara massal di jalan, di GOR senayan, sering melewati waktu dzuhur, sehingga sholat molor, bahkan musibah, ada aksi palestina dengan hiburan nasyid (dibawakan oleh grup nasyid terkenal asal UI – yang lengket dengan identitas tarbiyah dari jaman PK sampai PKS), nyanyi terus dari siang sampai jam 4 tanpa henti.. tanpa henti.. meski waktu ashar sudah lewat, sehingga kami yang shalat  ashar berjama’ah di musholla perkantoran dekat monas masih sangat jelas terdengar lagu-lagu mereka. Berteriak ‘Allahu Akbar’ tapi tidak menempatkan kebesaran-Nya sesuai tempatnya. Juga  pernah mengikuti pembekalan, sejarah IM buat kader inti, kok ya santai saja, meski sudah masuk dzuhur, nggak di-skip dulu buat sholat sebentar, masih saja bablas acaranya.
Juga tentang acara2 liqonya, betapa doa rabithah seperti jadi agenda wajib saat selesai liqo, padahal doa buatan manusia bila dirutinkan dan diyakini bisa menjadi bid’ah, sementara doa2 dari sunnah yang begitu banyak malah jarang diucapkan. Kemudian dari sisi penampilan, betapa jenggot meski tipis ya tetap dianggap nyunnah, bahkan saya perhatikan yang sudah menjadi aleg, bebrapa diantara mereka jadi klimis janggutnya, padahal tak saya temui dalilnya boleh memotong jenggot, yang ada khilaf memotong jenggot bila sudah satu genggaman (atsar ibnu umar radhiyallahu ‘anhu)
Di perpustakaan saya, buku2 harokah menumpuk, namun betapa logika dan doktrin banyak memenuhi buku2 itu ketimbang qola Allah, qola Rasul, Qola shahabat dan juga atsar para salafush shaleh lain.
masalah jama’ah (al-jama’ah huwal huzb wal hizb huwal jama’ah) adalah aneh sekali, apalagi kunci masuknya adalah adanya baiat amal pake syahadat lagi (masuk islam lagi???), saya sering jumpai teman-yeman ikhwani kalo berbicara jama’ah dengan logika, saya belum pernah mendengarkan apa definisi jama’ah menurut para salafush shalih dari ustadz/murbbi/naqib ikhwani. pemaknaan jama’ah yang begitu sempit sehingga menimbulkan ashobiyah. (dulu bingung, kalo kita berjama’ah IM, terus ulama2 dulu jama’ahnya apa ya? apa jama’ahnya ibnu mubarak. apa jama’ahnya imam malik, apa jama’ahnya imam bukhari, apa jama’ahnya ibnu aimiyah)
Masalah ilmu hadits, terus terang juga minim, bahkan jarang yang tahu kalo ini dhaif, ini maudhu’. Musibah, pernah dengar anggota ahli (naqibnya naqib) membawakan hadits dhaif : shumu tashihu (berpuasalah niscata engkau sehat), ada juga teman muntashib masaih membawakan hadits ramadhan awwaluhu rahmat….. duhai, belasan tahun ngaji, tapi ilmu haditsnya masih minim. belum kalo ditest : kutubussittah kitabnya apa  saja, duluan mana imam bukhari dengan imam abu hanifah, atau masalah shirah shahabat & tabiin (sampai ada yang mengatakan said bin musayyib rahimahullah adalah sahabat, duh ustadz apa nggak pernah baca kalo beliau itu lahir di jamannya kekhalifahan umar radiyallahu ‘anhu)
Dan masalah ilmu juga yang fatal, adalah dengan ilmu yang minim banyak teman2 ikhwan nekat berdakwah, nekat menjadi murabbi, apalagi slogannya : nahnu du’at qabla kulli syai (kami adalah dai sebelum segala sesuatu), apa dalilnya sampe ketemu slogan begini, padahal imam bukhari rahimahullah membuat bab berjudul : al-ilmu qablal qaul wal amal ( ilmu dahulu sebelum perkataan dan amal). Kalo ilmunya minim, copas dari buku materi dakwah buku 1 atau buku 2 (istilahnya rasmul bayan, materi tarbiyah yang biasanya jadi panah-panah kalo ditulis di whiteboard), menyampaikan maraji materi yang berupa ayat dengan penafsiran sendiri. dalam hal tholabul ilmu pun saya lihat banyak teman2 ikhwani yang kurang bersemangat, kecuali kalo diberi ta’limat wajib. sebenarnya ada beberapa ustadz tarbiyah yang memberikan kajian rutin, tapi nyatanay yang ikut sedikit. Menuntut ilmu malas, tapi begitu saat musim politik begitu bersemangat, sehingga jadilah banyak timbul musibah : ikhtilat saat rapat2 dpra/dpc/dpd, saat kampanye nggak peduli masang spanduk atau pamflet di tembok2 orang, belum kampanyenya yang kini campur lagu2 jahiliyah, pawainya bikin macet, dan lain-lain.
Dan masih banyak keliruan-keliruan yang lain, yang bila dilihat dari kaca mata penuntut ilmu begitu memperihatinkan. teramat beda saat berkenalan dengan manhaj salaf, kita begitu bersemangat menuntut ilmu, kita bertambah tahu tentang masalah sunnah, mengetahui hadits2 dhaif, mengetahui shirah dan perkataan salafus shaleh,s ehingga mengetahui islam yang putih, bukan islam warna warni.
Maka sekarang baru terasa, nikmat yang besar, adalah ikmat mendapat hidayath mengenal sunnah, sebagaimana para salafus-shaleh dulu berjalan… wallahu a’lam


Agustus 12, 2011 at 11:25 AM ans berkata:

ustad dan para pembaca situs ini yg terhormat,
saya juga adalah mantan pks dan sekarang lagi senang dgn manhaj salafi, kurang lebih 7 tahun saya liqo, tapi belum sampai di baiat. sebenarnya saya bisa memahami bagi sebagian kader pks yg masih senang dengan sistem liqo ini. Mungkin salah satu alasan dari banyak alasan (menurut pribadi saya) adalah masalah kekeluargaan (ukhuwwah). Dalam liqo kita saling sharing, keluhan, curhat, tukar info, saling bantu dll. sehingga dari sini kebutuhan jiwa dan hidup juga terpenuhi. Apalagi ada kader yg kekurangan dalam hal ekonominya (misal belum ada kerjaan, rezeki pas2an, butuh modal usaha), maka dalam liqo akan diusahakan dicarikan solusi, misal dikasih modal, dicarikan info kerjaan, link info kerja, ikut kerja dgn kader yg kaya dll. Apalagi sekarang kader pks, banyak yg kaya krn jadi aleg, walikota, gubernur, menteri dll. Sehingga secara tidak langsung kader2 yg kekurangan ekonomi ada sedikit bantuan dari yg kader kaya.sehingga ada pemikiran daripada ikut kajian salafi, yg hanya dapat kajian rutin di masjid, mendingan ikutan kajian kelompok2 yg ada (misal ikut pks, ht, jt, ldii dll) krn disana ada sistem liqo yg ada saling bantu dalam  hal bantuan ekonomi, sehingga beban hidup bisa berkurang. Dan menurut saya ini adalah masalah klasik yg manusia tdk bisa keluar dari masalah ekonomi ini. belum lagi dalam liqo juga dibahas masalah2 ekonomi, bisnis, dll sehingga nantinya akan tercipta usaha bisnis, sehingga kebutuhan ekonomi akan terbantu juga. inilah mungkin salah satu alasan, akan keuntungan ikut suatu jamaah/kelompok yg menggunakan sistem liqo/mentoring. mungkin bagi kader yg kaya dan hidupnya berkecukupan tidak akan merasakan tentang permasalahan ekonomi ini, malahan secara fitrah dan ikhlas akan dengan senang hati membantu kader yg miskin
ustad kalo kondisinya seperti gini, apakah kita boleh memahami saudara2 muslim kita yg kekurangan ekonomi, untuk ikut liqo pks, krn di sini mereka dapat berkurang beban hidup ekonominya?
lagian dalam tubuh jamaah2 ini seperti pks (bisa dimasukkan Hizbut tahrir juga) tidak sesat2 amat, seperti sesatnya syiah. ldii, ahmadiyyah dll.



September 22, 2011 at 9:44 PM terang-terangan berkata:
kalau merasa benar, kenapa mesti sembunyi-sembunyi?
memangnya agama Allah untuk disembunyi-sembunyiin apa?
sembunyi-sembunyi = penakut.
kenapa mesti takut? padahal jelas-jelas agama Allah yg paling benar (bahkan justru satu-satunya yg benar). kecuali kalau ada udang di balik batu sih…


Sumber: http://ustadzaris.com/pengajian-sembunyi-sembunyi-tanda-kesesatan