بسم الله الرحمن الرحيم

Sabtu, 10 Desember 2011

Hitam di Dahi Perlu Diwaspadai

Sumber: http://ustadzaris.com/hitam-hitam-di-dahi-tanda-niat-tidak-suci


Tanya:
“Bagaimana cara menyamarkan/menghilangkan noda hitam di kening/di jidat karena sewaktu sujud dalam shalat terlalu menghujam sehingga ada bekas warna hitam?”
0281764xxxx
Jawab:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ
Yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS al Fath:29).
Banyak orang yang salah paham dengan maksud ayat ini. Ada yang mengira bahwa dahi yang hitam karena sujud itulah yang dimaksudkan dengan tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Padahal bukan demikian yang dimaksudkan.
Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksudkan dengan ‘tanda mereka…” adalah perilaku yang baik.
Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang kuat dari Mujahid bahwa yang dimaksudkan adalah kekhusyukan.
Juga diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Qatadah, beliau berkata, “Ciri mereka adalah shalat” (Tafsir Mukhtashar Shahih hal 546).
عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ : مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ : أَنَا حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟
Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut.
Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ.
Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).
عَنْ أَبِى عَوْنٍ قَالَ : رَأَى أَبُو الدَّرْدَاءِ امْرَأَةً بِوَجْهِهَا أَثَرٌ مِثْلُ ثَفِنَةِ الْعَنْزِ ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا بِوَجْهِكِ كَانَ خَيْرًا لَكِ.
Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700).
عَنْ حُمَيْدٍ هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ إِذْ جَاءَهُ الزُّبَيْرُ بْنُ سُهَيْلِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ : قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ، وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا.
Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya.Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701).
عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ (سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ : لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.
Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah?
Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).
Bahkan Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij (baca: ahli bid’ah)” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).
Dari al Azroq bin Qois, Syarik bin Syihab berkata, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang shahabat Muhammad yang bisa menceritakan hadits tentang Khawarij kepadaku. Suatu hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para shahabat. Aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadits yang kau dengar dari Rasulullah tentang Khawarij!”.
Beliau berkata, “Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadits yang didengar sendiri oleh kedua telingaku dan dilihat oleh kedua mataku. Sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah lalu beliau membaginya. Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya. Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih. Dia mendatangi Nabi dari arah sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau tidak memberinya.
Dia lantas berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”.
Mendengar ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda,
يَخْرُجُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ رِجَالٌ كَانَ هَذَا مِنْهُمْ هَدْيُهُمْ هَكَذَا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ثُمَّ لاَ يَرْجِعُونَ فِيهِ سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ لاَ يَزَالُونَ يَخْرُجُونَ
“Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka. Mereka membaca al Qur’an namun alQur’an tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudia mereka tidak akan kembali kepada agama. Ciri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalul muncul” (HR Ahmad no 19798, dinilai shahih li gharihi oleh Syeikh Syu’aib al Arnauth).
Oleh karena itu, ketika kita sujud hendaknya proporsonal jangan terlalu berlebih-lebihan sehingga hampir seperti orang yang telungkup. Tindakan inilah yang sering menjadi sebab timbulnya bekas hitam di dahi.



181 Comments


Agustus 10, 2009 at 10:37 AM arief nur berkata: 
subhanalloh, ilmu yang sangat bermanfaat insya Allah
Barokallohu fik
-arief nur-




Agustus 10, 2009 at 1:00 PM abu al abbas berkata: 
Assalamu alaikum. Jazakallahu Khairan atas penjelasannya. Boleh ana copy dan sebarkan artikelnya? Insya Allah akan dicantumkan sumbernya.




Agustus 10, 2009 at 1:02 PM irham berkata: 
Assalamu’alaikum
Seandainya sudah ada, apakah harus benar benar di hilangkan
Lalu untuk mencegahnya apakah harus sholat di atas sajadah yang tebal.
Lebih utama manakah sholat dengan tanpa alas apapun, tapi nanti pasti akan muncul tanda hitam.
Atau dengan memakai alas sajadah, supaya tidak muncul tanda hitam di dahi.
jazakallah.




Agustus 10, 2009 at 5:10 PM Rudi hartanto berkata: 
Subhanallah artikel yang sangat manfaat.Pada awalnya saya sujud dengan menekan agak keras sehingga timbul bekas hitam didahi,semua saya lakukan karena dalam tuntunan shalat karya syeih albany terdapat perintah menekan saat sujud. Sungguh dalam hati saya merasa tak nyaman dengan bekas itu karena saya merasa bukan seorang ahli sholat. Mau tanya maksud dari menekan dlam sujud,seperti apakah batasannya?




Agustus 10, 2009 at 6:24 PM zaky rachman berkata: 
assalamu’alaikum 
ustd apakah stiap org yg memiliki tanda di dahi itu seperti tulisan diatas? krn ana ketika sujud tdk tergesa2 namun tanda itu tetap ada walaupun tanpa ada niat. dan ana melihat asatidz banyak yang “bertanda” seperti itu. ana harap penjelasannya krn dgn membaca tulisan ustadz diatas kmungkinan org banyak (trmsk ana) yg berfikiran asatidz yg bertanda di dahi bknlah org yg patut dimintai ilmunya.
jazakullah khairan




Agustus 10, 2009 at 6:30 PM zaky rachman berkata: 
afwan nambah lagi. atau mungkin ana yg salah tanggap terhadap tulisan ustadz.
wassalamu’alaikum




Agustus 10, 2009 at 6:34 PM zaky rachman berkata: 
afwan ada yg klupaan. atau mungkin ana yg salah memahami terhadap tulisan ustadz.
wassalamu’alaikum




Agustus 11, 2009 at 1:23 PM Pendi berkata: 
Tapi apa emang ga boleh kalo emang tanpa disengaja ada bekas sujud di dahi kita?? Contohnya seperti Ustadz Yazid Jawas… Kan beliau juga punya bekas sujud di dahi nya..




Agustus 11, 2009 at 1:55 PM Abu Fa'iq berkata: 
Assalaualaikum, alangkah baiknya dalam atsar2 diatas dipaparkan derajatnya, agar jelas, apakah hasan? atau shåhih?




Agustus 11, 2009 at 2:24 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Pendi.
Sebuah kaedah penting ahli sunnah yang harus selalu kita ingat bahwa penilaian yang bersifat umum itu berbeda dengan penilaian yang bersifat khusus untuk individu tertentu. Yang kita bahas dalam tulisan di atas adalah penilaian yang bersifat umum, bukan penilaian terhadap si A dan B.




Agustus 11, 2009 at 2:30 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Abu Faiq.Wa’alaikumussalam.
Secara umum, para ulama memberi kelonggaran dalam membawakan atsar salaf selama tidak bertabrakan dengan kaedah baku syariat. Yang menjadi dalil pokok dalam hal ini adalah hadits yang menceritakan ciri khas khawarij. Tidak selayaknya ada pada diri kita ciri khas ahli bid’ah. Wallahu a’lam.




Agustus 11, 2009 at 2:39 PM zaky rachman berkata: 
assalamu’alaikum
ustadz entah knapa pertanyaan saya tidak tampil mngkin krn koneksi internet di tempat saya jelek jd pas posting ga nyampe. tp alhamdulillah pertanyaan saya sdikit terwakili oleh pertanyaan akh pendi. dan jazakulloh atas jawabannya
wassalamu’alaikum




Agustus 11, 2009 at 2:45 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Zaky
Wa’alaikumus salam
Coba baca jawaban saya untuk Pendi. sekali lagi penilaian yang bersifat umum itu berbeda dengan penilaian yang bersifat khusus.




Agustus 11, 2009 at 2:48 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Rudi. Insya Allah akan kita postingkan tulisan khusus untuk membahas pengertian menekan dalam sujud yang dianjurkan.




Agustus 11, 2009 at 2:51 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Abul al Abbas. Waa’alaikumussalam.
Silahkan. Lihat syarat mengkopi artikel di blog ini di halaman muka blog ini pada bagian bawah.
Jazakumullah khoiron.




Agustus 11, 2009 at 2:58 PM Abu Fathimah berkata: 
Assalamu’alaikum,
masya ALLAH sangat bagus artikelnya,
lalu bagaimana jika yang sudah ada tanda bekas sujud tersebut, sedangkan Insya ALLAH tidak ada niatan untuk terlalu telungkup atau menekan kepala.
Disisi lain banyak masjid yang saat ini menggunakan karpet yang dimana ada juga orang yang mempunyai kulit yang tipis sehingga sangat mudah terluka atau membekas ataupun lecet, bagaimana dengan hal tersebut
dan dalam judul artikel tersebut apakah orang yang mempunyai tanda dahi hitam tanda dia tidak ikhlash ..?
satu lagi, pertanyaannya sesusungguhnya belum terjawab, karena penanya tidak menginginkan ada bekas tanda hitam di dahinya, dan bagaimana cara menghilangkannya, tetapi jawaban tentang bagaiman menghilangkannya belum jelas .. apakah menggunakan sesuatu pemutih hand body atau lain² .. ataukah nantinya hilang dengan sendirinya atau gimana ..??
Jazakallohu khoiron ..
Wassalamu’alaikum




Agustus 11, 2009 at 7:50 PM 'Abdulloh berkata: 
assalamu ‘alaykum warohmatulloh ustadz,
ustadz, dengan menyebarnya artikel ini (terutama di facebook), terdapat beberapa kesalahan persepsi orang-orang yang membaca judul artikel ini ustadz.
sehingga banyak yang salah paham dan mengomentarinya dengan komentar-komentar yang tidak sepantasnya, ada sebagian yang lain yang urung untuk membaca artikel gara-gara judul artikel diatas.
mungkin juga judul yang dituliskan ini adalah judul pertanyaan yang dibuat si penanya… wallohu ta’ala a’lam
karena sangat jelas kontras judul dengan, pertanyaan si penanya, dan isi yang ada didalamnya..
maka alangkah baiknya, judulnya:
“bagaimana pandangan syar’i tentang tanda hitam dikening?”
sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi yang membacanya. sekedar usul ustadz. semoga Alloh selalu menjaga ustadz
wallåhu ta’ala a’lam
wassalamu ‘alaykum warohmatullohi wabarokatuh




Agustus 12, 2009 at 7:48 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Abdullah
Wa’alaikumussalam wa rahmatullah
Jazakumullah khoiron atas usulannya.
Tolong baca bagian akhir tulisan tersebut, terutama kutipan dari perkataan ash Showi al Maliki. Moga bisa dipahami.




Agustus 12, 2009 at 9:46 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Abu Fathimah
Wa’alaikumussalam
1. kaedah sujud yang benar adalah paha dijauhkan dari perut, sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Baz dalam risalah tipis beliau tentang tata cara shalat yang Nabi ajarkan. Jadi tidak harus membentuk sudut 45 derajat.
2. Perlu dicamkan bahwa penilaian secara umum sebagaimana judul tulisan di atas itu berbeda dengan penilaian yang bersifat khusus untuk person-person tertentu.
3. Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah itu maha indah dan menyukai keindahan”. Yang dimaksud dengan menyukai keindahan dalam hadits ini menurut Ibnu Utsaimin adalah tajammul atau memperindah atau merapikan penampilan. Sehingga penampilan yang buruk yang ada pada kita sebaiknya kita hilangkan dengan cara dan bahan yang tidak dilarang oleh syariah.




Agustus 12, 2009 at 9:55 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Irham
Wa’alaikumussalam
1. Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah itu maha indah dan menyukai keindahan”.
2. Pada asalnya shalat dengan memakai alas itu diperbolehkan. Realita menunjukkan bahwa shalat dengan alas atau tanpa alas jika tidak berlebihan tidak akan menimbulkan tanda hitam.




Agustus 17, 2009 at 11:09 AM ummul hasan berkata: 
assalaamu ‘alaykum
ustadz, maaf. jika saya tidak salah ingat, saya pernah membaca bhw di antara sunnah saat sujud adalah menekankan wajah ke tempat sujud. benarkah demikian?
jazaakallohu khayraal jazaa’, ALLOHU yahfazhuka wa iyyay fid dunya wal aakhirah




Agustus 19, 2009 at 6:49 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Ummul Hasan
Wa’alaikumussalam. Insya Allah, telah kami siapkan tulisan khusus untuk membahas tentang pengertian menekankan wajah dalam sujud.




Agustus 19, 2009 at 7:32 PM wilman anugrah berkata: 
Assalamualaikum…
Siapakah Ahmad ash Showi itu? Seorang sahabatkah? Afwan ana belum tahu…
Jazakullah Khoir




Agustus 20, 2009 at 8:03 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Wilman
Wa’alaikumussalam
Beliau seorang pakar fiqh bermazhab Maliki penulis buku Hasyiyah (baca:syarh) Kitab Tafsir al Jalalain.




Agustus 25, 2009 at 8:20 AM abu khansa berkata: 
assalamualaikum ustadz
maaf saya juga termasuk orang yg berdahi hitam akibat sujud. Hal ini terjadi sejak saya memperaktekkan sholat seperti yg saya baca di buku sifat sholat nabi Syaikh Al-Albani dimana paha dijauhkan dari perut dan tangan dibuka lebar sehingga beban badan sebagian akhirnya tertumpu di dahi meskipun tanpa niat menekan. Hal inilah yg menyebabkan dahi menjadi hitam. Saya juga sudah baca tulisan ustadz yg sujud dengan menekan, tetap saja saya tidak tahu bagaimana cara menekan dahi tanpa menyebabkan muncul-nya tanda hitam. Tidak ada niat saya utk tidak ikhlas dalam sholat apalagi berlaku ria dgn tanda hitam di jidat saya, tetapi hal ini sudah terjadi. Selain itu juga banyak ustadz yg saya lihat memiliki jidat hitam juga, bagaimana saya memandang mereka mengingat hitamnya dahi menunjukkan sifat ria atau ahli bid’ah. Kalau saya mungkin karena ilmu saya masih cetek, kalau ustadz2 itu gimana ya?
Wassalamualaikum




Agustus 25, 2009 at 12:23 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Abu Khansa
1. Perbuatan orang itu tidak pernah menjadi dalil agama.
2. Tulisan saya tentang hal ini hanya memberi penilaian secara umum bukan penilaian khusus untuk antum atau yang lainnya.
3. Saran saya, alanglah lebih baik jika hal tersebut dihilangkan. Sesungguhnya Allah itu maha indah dan mencintai keindahan. Wallahu a’lam.




Agustus 28, 2009 at 3:03 PM Abu Hasan berkata: 
assalamualaikum,
ustadz mengatakan : “Tulisan saya tentang hal ini hanya memberi penilaian secara umum bukan penilaian khusus..”
justru karena penilaian ini dilihat secara umum, maka akan banyak sekali orang2 seperti beberapa pendapat di atas yg mempertanyakannya.. salah satunya saya..
karena mungkin ustadz melihat hanya dari fisik saja, Wallahu ‘alam dengan Hati mereka?? padahal mereka hanya menjalankan sunnah berdasarkan dalil yg ada tanpa ada rasa Ri’ya (insyaAllah)..
adapun mensifatinya dengan khawarij, apakah khawarij itu berjenggot? apakah mereka Sholat? sungguh kesamaan fisik bukan berarti sama hatinya..
Wallahu’alam




Agustus 28, 2009 at 4:01 PM Abu Hasan berkata: 
afwan satu lagi, bagaimana bisa ustadz memvonis bahwa hitam di dahi tanda niat tidak suci? apakah kita mengetahui apa yg ada di dalam hati seseorang? karena niat itu tempatnya di hati ( bukan di mulut, di dahi atau yg lainnya)




Agustus 30, 2009 at 3:54 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Abu Hasan
Wa’alaikumussalam
Yang saya katakan bahwa itu adalah tanda niat tidak suci. Yang namanya ‘tanda’ itu nampak dan terlihat. Saya tidak menilai isi hati orang hanya saja pada orang tersebut terdapat tanda yang dimiliki oleh orang niatnya tidak suci. Tidak semua orang yang memiliki tanda niat yang tidak suci berarti dia memiliki niat yang tidak suci.
Tidak semua orang yang memiliki tanda orang munafik adalah orang munafik.
Tidak semua orang yang memiliki tanda orang kafir adalah orang kafir.
Tidak semua orang yang memiliki tanda orang shalih adalah orang shalih.
Tidak semua orang yang memiliki tanda orang kaya adalah orang kaya.
Tidak semua orang yang memiliki tanda atau simbol ulama adalah ulama.
Demikian pula, tidak semua orang yang memiliki tanda orang yang riya’ dalam beramal adalah orang yang benar-benar riya’ beramal.
Demikian pula, tidak semua orang yang memiliki tanda khawarij adalah khawarij.




Agustus 31, 2009 at 11:44 AM Abu Hasan berkata: 
Jazakallah atas jawabannya, tapi kok masih kurang pas/jelas ya.. dan  Salam saya kok tidak di jwb oleh Ustadz ya?
‘Tanda’ hitam di dahi itu adalah berasal dari suatu hubungan SEBAB AKIBAT,
SEBABNYA : karena orang2 tersebut mengikuti Sunnah dalam melakukan sujud dengan menekan (tanpa seorangpun tahu niat mereka).
AKIBATNYA : Allah menjadikan dahi mereka itu terdapat tanda hitam bekas mereka sujud..
Ust. mengatakan : “Tidak semua orang yang memiliki tanda niat yang tidak suci berarti dia memiliki niat yang tidak suci.”
pertanyaan saya, kok Ust. bisa tau? ada yg memiliki niat tidak suci dan ada juga yg tidak? apakah ada dalilnya??
mengapa Ustadz tidak mempersoalkan mereka yang tidak terdapat ‘tanda’ hitam bekas sujud di dahi mereka? karena mungkin mereka tidak/kurang menekan waktu melakukan sujud? dan jika demikian bukankah berarti mereka tidak/belum mengamalkan Sunnah Rasulullah SAW? (menekan dahi waktu sujud)
justru Ustadz mempersoalkan orang2 yang ittiba’ menjalankan Sunnah dengan menekan dahi waktu bersujud..
sudah sepantasnyalah kita kembalikan segala persoalan kepada Allah dan Rasul-Nya.
wallahu’alam




Agustus 31, 2009 at 1:31 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Abu Hasan
1. Dalil atau alasan adanya orang yang memiliki niat tidak suci dalam masalah ini telah saya sampaikan dalam tulisan di atas.
2. Dalil atau alasan adanya orang yang tidak memiliki niat yang tidak suci dalam masalah ini adalah realita. Ada orang yang memiliki tanda di atas dan menurut sebatas pengakuannya -dan dalam hal ini kita berbaik sangka kepadanya- dia tidak memiliki niat riya’ dengan tanda tersebut.
3. KIta tidak mempermasalahkan orang yang tidak memiliki tanda tersebut karena kita tidak memiliki alasan untuk mempermasalahkannya, berbeda dengan orang yang memiliki tanda tersebut.
4. Tanda tersebut muncul kemungkinan besar karena salah faham dalam memahami ajaran Nabi yaitu menekan dalam sujud. Tolong baca tulisan ‘Menekan dalam Sujud’ yang ada di blog ini. Karena salah faham akhirnya mereka over dosis dalam melakukan tekanan dalam sujud semisal sujud seperti orang yang hendak telungkup atau anggapan bahwa dalam sujud betis dan paha harus membentuk ukuran 45 derajat. Oleh sebab itu muncullah tanda yang memperburuk wajah manusia yang telah Allah ciptakan dalam keadaan yang terindah.
Hukum menekan dalam sujud diperselisihkan oleh para ulama ada yang mengatakan wajib, ada juga yang mengatakan tidak wajib sebagaimana telah disampaikan dalam tulisan ‘Menekan dalam Sujud’. Meski pendapat yang paling kuat menekan dalam sujud itu hukumnya wajib namun yang dimaksud dengan menekan dalam hal ini adalah lebih dari sekedar menempelkan dahi ke tempat sujud.
Jika ketika kita bersujud kita sudah lebih dari sekedar menempelkan dahi maka kita sudah melakukan sunnah Nabi, menekan dalam sujud.




Agustus 31, 2009 at 5:34 PM Abu Zahroh berkata: 
Jazakallah khairan.
Artikel yang sangat bermanfaat dalam meng-kalibrasi pemahaman yang ada selama ini. Ternyata sujud pun perlu di-manage dengan baik, perlu ditekan namun jangan sampai meninggalkan bekas hitam.
Kalau ada pembaca sekalian yang kenal akrab dengan ustadz ahlus sunnah yang di dahinya ada tanda hitam, -baik tanda hitamnya tebal maupun tipis-, mungkin bisa ditanyakan dengan baik-baik apakah tanda hitamnya tersebut ada dalilnya ataukah tidak. Sekaligus disampaikan dalil yang menjadi acuan Ustadz Aris dalam masalah ini.
Pertanyaan hendaknya disampaikan dengan baik tanpa unsur memojokkan, tetap menjaga hormat, dan penuh adab kepada para Ustadz yang masih memiliki tanda hitam di dahinya.
Sekian, mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.




September 4, 2009 at 7:33 AM Abu Muhammad berkata: 
Assalamu’alaikum…
Kalau yg ana rasakan, dahi merasa tertekan ketika sujud yakni ketika jari2 kaki diarahkan ke arah kiblat. apabila jari2 kaki tidak diarahkan ke kiblat dgn sempurna, maka dahi tidak akan merasa tertekan. Wallahu’alam.




September 6, 2009 at 2:24 PM abinesyadza berkata: 
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
afwan sebelumnya saya sependapat dengan Abu Hasan terkait dengan judul artikel di atas ustadz, karena bagi orang awam ataupun yang kebanyakan pembaca, judul tersebut terasa telah menghukumi niat, sedangkan niat adalah amalan hati. insya Allah artikel di atas sangat bermanfaat dan penuh dengan ilmu, namun alangkah baiknya judulnya tidak seperti itu…misalnya saja “hitam di dahi tidak semuanya shalih” atau “jangan terkecoh dengan tanda hitam di dahi”…
afwan dari ana yang masih sedikit ilmunya
wallahu’alam 
wassalamu’alaikum warahmatullah




September 7, 2009 at 7:42 AM Aswad berkata: 
Niat memang amalan hati, namun amalan hati itu kadang memiliki pertanda zhahir. Oleh karena itu, para ulama banyak menyebutkan tanda-tanda jeleknya niat dalam rangka memperingatkan ummat agar menjauhi perbuatan tersebut. Sebagaimana perkataan Ash Shawi pada artikel di atas. Dan ini bukan menghukumi niat, namun menjelaskan pertanda jeleknya niat. Mohon dibedakan.
Banyak contoh lain dari para ulama, saya bawakan salah satunya, Imam An Nawawi berkata:
ليحذر مِن كراهته قراءة أصحابه على غيره، ممن ينتفعو بقرائتهم عليه، وهذه معصية يُبتلى بها بعض المعلمين، الجاهلين، وهي دلالة بينة من فاعلها على سوء نيته، وفساد طويته وعدم إرادته بتعليمه وجه الله الكريم
“Berhati-hatilah, jangan sampai marah jika salah seorang murid belajar kepada orang lain yang mendapat memberikan banyak manfaat kepadanya. Ini sebuah musibah yang menimpa sebagian pengajar Al Qur’an yang bodoh. Ini bukti yang jelas tentang niatnya yang jelek dan hatinya yang rusak. Dan menunjukkan bahwa ia tidak mengharap wajah Allah dari kegiatan mengajarnya” (At Tibyan Fii Adabi Hamalatil Qur’an, hal. 28, Penerbit Al Haramain)
Perhatikan, apakah Imam An Nawawi menghukumi niat?




September 9, 2009 at 9:43 AM Ahmad Rafhy berkata: 
Sy juga punya noda di dahi.
Tp tdk ada niat sdikitpun sengaja ntuk menghitamkannya.
Seingat saya noda itu ada sejak sy memakai songkok arab, sbelumnya sy pake songkok hitam/nasional tdak ada bekas noda, tp setelah ganti songkok arab (gampang dibawa-bawa) tidak terasa berbekas di dahi.




September 10, 2009 at 10:19 AM eka ardiansyah berkata: 
terus terang ana bingung setelah baca tulisan ini, ana sujud tidak begitu menekan, ya sekedarnya saja, juga tidak hanya menempel tapi memang agak lama karena sekalian berdoa, tapi tanda itu tetap ada, padahal ana tidak ada niat untuk muncul tanda hitam itu di dahi,bagaimana ya? tapi rasulullah dan sahabatnya bisa seperti itu. jadi bingung




September 10, 2009 at 11:52 AM ustadzaris berkata: 
Untuk Eka
Sebaik-baik praktek beragama adalah praktek Nabi dan para shahabat.




September 10, 2009 at 10:00 PM Ibnu Shalih berkata: 
Assalaamu’alaykum. Semoga Alloh menegarkan Kita diatas sunnah.Ustadzunaa, Ana ingin tanya berkaitan dengan pernyataan antum pada komentar diatas “Secara umum, para ulama memberi kelonggaran dalam membawakan atsar salaf selama tidak bertabrakan dengan kaedah baku syariat”. Apakah kelonggaran ini juga diberikan para ahli ilmu dalam hal2 yang berkaitan dengan tafsir? dan jika ternyata sanad dari atsar yang bersangkutan telah jelas dan nyata kelemahannya apakah masih bisa dijadikan pendukung argumentasi? Jazaakalloh khoiron.




September 12, 2009 at 1:35 PM ibnu saleh berkata: 
Assalaamu’alaykum, syukron ustadz artikelnya.. bingung nih dimasjid ana sekarang sajadah uda jarang dipake..




September 14, 2009 at 10:31 AM Rigih berkata: 
banyak sekali kebingungan dalam hal ini ustadz. bagaimana jika membuat artikel yg mengupas tuntas tentang masalah ini. yang berisi argumen dan jawaban dari pertanyaan2 di atas.




September 19, 2009 at 6:07 AM abu abbas berkata: 
Afwan,, izin copy n share yah…




September 22, 2009 at 8:54 AM abulhasan berkata: 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah selain dua jenis tetesan air dan dua bekas [pada tubuh]; yaitu tetesan air mata karena perasaan takut kepada Allah, dan tetesan darah yang mengalir karena berjuang [berjihad] di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah; bekas/luka pada tubuh yang terjadi akibat bertempur di jalan Allah dan bekas pada tubuh yang terjadi karena mengerjakan salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah.” (HR. Tirmidzi [1669] disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1363]).
Bukankan salah satu “bekas pada tubuh yang terjadi karena mengerjakan salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah” adalah bekas sujud? Tentu bekas di sini adalah bekas yg membekas dengan sendirinya dan tidak sengaja dibuat berbekas apalagi dgn maksud riya’.




September 30, 2009 at 9:20 AM Ahmad berkata: 
Afwan, mungkin ana salah tanggap tapi kaya’nya memang judulnya kali perlu yg diperbaharui…. artikelnya bagu ustadz….




Oktober 2, 2009 at 9:46 AM ustadzaris berkata: 
Untuk Ibnu Shalih
Wa’alaikumussalam
Tolong kaji masalah membawakan kisah israiliyyat dalam tafsir.




Oktober 2, 2009 at 11:13 AM ustadzaris berkata: 
Untuk Abulhasan
1. Terima kasih karena telah diingatkan dengan hadits tersebut
2. Ada beberapa perenungan yang perlu dilakukan
a. Bekas hitam di dahi itu bekas sujud ataukah bekas menekan dalam sujud atau bekas menekan dalam sujud yang over dosis. Kalo bekas sujud maka memang hukum sujud itu wajib. Jika itu bekas menekan dalam sujud maka ulama berselisih pendapat tentang hukum menekan dalam sujud. Ada yang berpendapat menekan dalam sujud hukumnya dianjurkan, bukan wajib. Di antara yang memilih pendapat tersebut adalah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam buku beliau Adab Masy-yi ila Masjid.
Ingat yang dipuji dalam hadits adalah bekas yang terjadi karena melakukan sesuatu yang hukumnya wajib.
b.Penulis Tuhfatul Ahwadzi mengatakan, “Sedangkan yang dimaksud bekas karena melakukan suatu amal yang Allah wajibkan adalah semisal pecah-pecah pada tangan dan kaki karena berwudhu dalam cuaca yang dingin, anggota badan yang masih basah karena sisa air wudhu, terbakarnya dahi (baca;hitam di dahi seperti bekas terbakar) karena tempat sujud yang berupa kerikil-kerikil yang panas serta bau mulut yang tidak enak karena berpuasa” (Tuhfatul Ahwadzi 5/305, Dar Ihya Turats al Arabi Libanon, cet ketiga 1422H).
Perhatikan, dalam kondisi lantai masjid berupa pasir dan kerikil, menurut penulis Tuhfatul Ahwadzi hitam-hitam di dahi terjadi karena faktor kerikil yang panas, bukan karena menekan dalam sujud. Wallahu a’lam.




Oktober 11, 2009 at 5:58 AM Budi S. Ari berkata: 
Alhamdulillah,ana paham akan penjelasan Ustadz. O,ya.. Tambahan dr akh. Aswad bagus sekali. Smoga para pembaca tidak keliru lg dlm mensalah artikan Judul dari artikel ini.




Oktober 14, 2009 at 7:48 AM afiqpradana berkata: 
Assalamu Alaikum….
Judul sudah bagus, tidak perlu diganti, penjelasan sangat jelas sekali dan gamblang kecuali bagi mereka yang selalu ingin berselisih, tidak ada satupun riwayat Rasulullah SAW hitam dahinya karena sujud….




Oktober 17, 2009 at 8:31 AM ustadzaris berkata: 
Untuk Afiq
Wa’alaikumussalam
Tolong fotonya dihilangkan saja karena tidak ada kebutuhan untuk menampilkannya dan dalam rangka keluar dari perselisihan para ulama.




Oktober 20, 2009 at 2:15 PM Abu Farhan berkata: 
disettingan gravatar di hilangkan aja ustadz supaya Foto ga muncul, karena itu otomatis muncul karena mereka mendaftar gravatar.




181 Comments


Oktober 20, 2009 at 3:23 PM mudha berkata: 
jazakallahu khairan atas sarannya.




Oktober 21, 2009 at 1:28 AM Hollow berkata: 
sama sekali tidak menyeru kepada persatuan umat, banyak hal yg lebih urgent dari hanya membuka aib saudara sendiri. Wajar jika umat dalam keadaan tercerei berai jika orang yg berilmu tidak bijaksana dalam menyampaikan. Apakah anda dapat melihat dengan Pandangan ALLAH yg mampu menembus hati manusia sehingga dapat melihat niat dari suatu perbuatan ? biarkanlah Allah menjadi Hakim bukan manusia. Dan saya rasapun banyak orang yg mempunya tanda hitam di kening tidak ingin mempunya tanda tersebut dengan kata lain tidak dibuat atas keinginnannya.
Alangkah baiknya jika masalah cabang tidak merusak persatuan umat yg sedang tercerai..tidak menambah berai dan tidak menyinggun orang2 yg mempunyai niat tulus beribadat tanpa ingin mempunyai tanda di kening tetapi mendapatkan tanda tsb
Wallau’alam 
hamba yg tidak mempunyai tanda dikening




Oktober 21, 2009 at 2:05 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Hollow
Jika demikian pengadilan, kejaksaan dan kepolisian harus di tutup. ‘Biarkanlah Allah menjadi hakim, bukan manusia’.




Oktober 22, 2009 at 12:15 PM abu zaid berkata: 
Untuk akhi Hollow & yg lainnya,
Mungkin cara pandang kita terhadap tulisan ini yg perlu kita rubah. Jazakallohu khorin katsiro ya ustadz akan nasehatnya ttg hal ini, khususnya buat ana pribadi.
Memang yg namanya nasehat belum tentu semuanya menyenangkan, karena nasehat itu seperti obat. Ketika diminum, kadang ia akan mempunyai reaksi awal yg belum tentu mengenakkan bagi diri kita, apalagi jika penyakit kita itu diobati dengan obat yg benar/sesuai dgn kondisi kita saat itu. Akan tetapi kita berharap dengan ini semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kesembuhan bagi kita (khususnya pada hati kita).
Satu hal yg menurut ana perlu untuk direnungkan, yaitu :
Ketika kita merasa tersinggung dengan tulisan ini, maka ada hal yg (mungkin) perlu kita pertanyakan di dalam diri kita.
“Apakah kita dalam melakukan ibadah (sholat) selama ini sudah benar-benar ikhlas karena Alloh Azza wa jalla ??? Atau kah kita hanya ikhlas beribadah di awal2 kita mengenal sunnah Rasululloh shallallahu alaihi wasallam lalu dalam perjalanannya (sampai saat ini) keikhlasan di dalam diri kita sudah mulai luntur atau sudah tercampuri dengan Riya’ meskipun sedikit ???”
Hati-hatilah dengan penyakit Riya’, karena ia bagaikan semut hitam yang berjalan diatas batu hitam pada malam hari dan tidak ada cahaya sedikitpun ketika itu (gelap gulita).
Ana pribadi menganggap tulisan ini adalah untuk diri kita pribadi sebagai koreksi akan keikhlasan kita dalam beribadah kepada Alloh Azza wa jalla, dan BUKAN UNTUK kita dalam MENILAI ORANG LAIN. Tolong dibedakan ya akhi…
Ada 2 hal yg ana tangkap dari tulisan ini, yaitu :
1. “Orang yang memiliki tanda hitam di dahi belum tentu dia adalah orang yg sholeh.”
2. “Dan orang yg sholeh, mungkin saja dia memiliki tanda hitam di dahinya.”
Oleh karena itu, mestinya tidak ada polemik di dalam masalah ini, krn bukankah tidak ada dalil yang mengatakan akan sunnahnya memiliki tanda hitam di dahi ??? Dan apakah Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan bahwa tanda hitam di dahi adalah ciri khas orang-orang yg sholeh ???? Jawablah dengan hatimu ya akhi..
Bersyukurlah engkau ya akhi… ketika engkau mulai tersinggung dengan masalah ini, boleh jadi ini adalah pertanda awal kebaikan bagi dirimu. Merenunglah… merenunglah…. kenapa engkau tersinggung ya akhi… bukankah ini adalah nasehat untuk diri kita pribadi dan BUKAN untuk menilai orang lain ???? Lalu kenapa harus tersinggung ya akhi….?????
Semoga kita dapat terhindar dari penyakit Riya’ yg dapat membinasakan seseorang kelak di hari akhir… 
Allohu A’lam




Oktober 24, 2009 at 12:17 AM abang berkata: 
@abu zaid
akur dah kita ^_^
tips nya gini :  yg merasa berjidat hitam, itu biasanya sel kulit yg udah mengering ato mati. Setiap minggu usahakan di gosok saat mandi / basah, InsyaAllah daki / kotorannya mengelupas, hingga jidat jd bersih lg.




Oktober 30, 2009 at 11:59 PM Agus Wijanarko berkata: 
Subhanallah, artikel yang menarik dan semoga ada hikmah yg dpt kita ambil.
Saya ingin bertanya: Bagaimana dng ‘kapal’ yg ada di ujung ibu jari, di punggung kaki, atau juga di mata kaki?  Apakah harus dihilangkan atau paling tidak disamarkan jika ada saudara kita yg memiliki ‘kapal-kapal’ tersebut.




Oktober 31, 2009 at 4:12 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Agus
Nabi bersabda, “Sesungguhnya Alloh itu maha indah dan menyukai keindahan”.
Jika menghilangkan ‘kapal’ tersebut bagian dari berhias maka hal ini termasuk amal yang dianjurkan.




November 12, 2009 at 3:00 PM ahmad berkata: 
untuk ustadzaris dan abu zaid,
Terimakasih atas penjelasannya
untuk abang,
terimakasih atas sarannya :)




November 17, 2009 at 7:55 AM Abu Azka berkata: 
Klo saya baca, maaf karena keterbatasan ilmu bahasa mungkin jadi salah, tulisan tersebut menilai bahwa yang punya tanda hitam di dahi adalah tanda orang yang niatnya tidak suci. Saya berkhusnudzon bahwa saudara2ku yang mempunyai tanda hitam didahi tidaklah sengaja menggosokannya supaya terlihat alim. kita disunnahkan untuk memperpanjang sujud, dan bagaimana cara bersujud-pun masing2 dari kita insyaalloh sudah tahu mana yang sesuai sunnah.
Wallohu a’lam bish-showab.




November 18, 2009 at 7:42 PM 'Abdul hakim berkata: 
Assalaamu’alaykum Ustadz Aris..
Artikel ini apa  diadaptasi dari bukunya Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi yg judulnya:”Muntaqa Fadhailish Shalaah wa Adaabiha” ?
Barokalloh fiykum..




November 18, 2009 at 11:26 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Abdul Hakim
Wa’alaikumussalam
Bukan, bahkan baru tahu sekarang kalo beliau punya buku dengan judul seperti itu.




November 22, 2009 at 8:06 PM 'Abdul Hakim-Kendal berkata: 
Assalaamu’alaykum..      Ustadz. Barokallohu fiykum..
Kalau boleh tahu, sumber dari tulisan ustadz di atas merujuk dibuku apa saja ya?
Syukron.. Ustadz Aris..




November 22, 2009 at 9:15 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Abdulhakim
Wa’alaikumussalam
Buku-buku rujukannya adalah yang tercantum dalam tulisan di atas.




Desember 15, 2009 at 3:18 PM tina berkata: 
untuk ikhwan yang berjidat hitam jaga selalu ke’ihsan’an antum.. hati2 dg bisikan2 syetan dan nafsu tentang jidat antum, hanya Allah yang layak DiPuji..
apakah Rosullullah Sas. juga berjidat hitam ustadz?





Desember 15, 2009 at 11:01 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Tina
Jawabannya sudah ada pada artikel di atas. Tolong dibaca lagi dengan cermat.




Desember 27, 2009 at 8:32 PM fahri berkata: 
alahamdulillah ana menmabil manfaat dari artikelnya… jazakallah khoir
hal ini menjadi koreksi bwt kita agar lbh manjaga keikhlasan dlm sholat.. nmun yg perlu dketahui bahwa tanda di dahi mmang sering nampak akibat tekanan bagian bahu dn kepala yg dlm hal ini tulang di dahi bersentuhan lansung dgn tempat sujud, lebih2 bersentuhan langsung dgn lantai tanpa alas..
tidak mnutup kemungkinan ada sbagian saudara kita yang berlebihan dlm hal ini. mereka amat menekan bagian kepala saat sujud dgn harapan tanda hitam di dahi akn nampak.. tentu ada pula saudara kita yg lain yg mmiliki tanda di dahi tsb nmun benar2 tidak manghendaki demikian.. namun apakah kita akan mengatakan bahwa golongan yg kedua ini tidak ikhlas dalam sholatnya??? sungguh tidak ada yg bisa memastikan..


sebagai masukan sebaiknya judulnya diganti dgn redaksi lain karena “hitam di dahi tanda niat tak suci” lebih mengarah kpada vonis yg tidak bisa kita pastikan nilai kebenarannya.




Januari 6, 2010 at 3:49 PM zidane berkata: 
benertuh judulnya terlalu extreme! isinya sih bagus dan tidak mesti dipermasalahkan! sebaiknya diganti menjadi Tanda Hitam Di Dahi bukanlah Sunah!




Januari 8, 2010 at 5:01 PM abu khaulah berkata: 
Judulnya terlalu saklek sekali..
Ana yakin tidak ada orang shalih yang mengharapkan tanda hitam di dahi kecuali orang yang ingin menunjukkan bahwa dirinya shalih. coba deh liat syaikh utsaimin rahimahullah..





Januari 15, 2010 at 5:18 PM uzir berkata: 
Ass’kum. Samada ada tanda hitam @ tidak, bukan persoalan yang besar. Tidak dinafikan bahawa mereka yang bertanda hitam di dahi adalah orang yang kuat mengerjakan solat. Itu adalah petunjuk allah di atas muak bumi ini, dan diakhirat kelak yang tidak bertanda hitam, tanda hitam itu juga akan muncul. Banyak komen yang dibaca seolah2 mempersendakan orang yang mempunyai tanda hitam didahi kerana amat sukar untuk mendapatkan tanda hitam tersebut. Tidak semudah yang dijangka selain mereka yang selalu bersolat dan khusyuk. Mungkin orang lain juga akan cemburu melihat keadaan ini, kuat beribadat, bukan sekadar 5 waktu sahaja sembahyang. Kalau diikutkan semua termasuk yang wajib & sunat, terdapat lebih kurang 50 rakaat sehari untuk ditunaikan solat. Jangan nak salahkan pada carpet @ permaidani tapi insaflah. Jika orang lain ada tanda tu, ianya bukan diminta @ dibuat2, wajah mereka kelihatan berseri dan bercahaya….sama2 menjaga solat seharian….




Januari 19, 2010 at 9:49 PM shinobigatakutmati berkata: 
jidat hitam sangat mudah dibuat, terlebih yang sholatnya di karpet. hanya melihat fisik, na’am itu sudah salah kaprah namanya. sebenarnya artikel di atas sudah sangat jelas namun kebanyakan kita hanya lintas lalu dalam membaca. sesungguhnya menekan itu tidak akan membawa ke arah kehitaman ketika tidak ada niatan untuk menghitamkan. kebanyakan dari kita sholat, kemudian ketika sujud kita buyar karena harapan akan “bukti” keikhlasan kita.
wallahu a’lam bish shawab.




Januari 20, 2010 at 9:36 AM umm abdillah berkata: 
bismillah,
jazaakallohukhoirn katsiron ustadz.
artikel ini bagus, cukup membuat kita introspeksi dan memperbaiki niat….
dalil yg disampaikn cukup mewakili pertanyaan2 dan kegundahan hati kami..
namun akan menimbulkan pertentangan bagi sebagian orang…
ditunggu artikel ya semacam ini..




Januari 20, 2010 at 10:50 PM m.yunus berkata: 
Saya meragukan niat dan tujuan web ustadzaris ini…  jangan jangan memang benar2 ingin memecah belah umat, sadarlah wahai saudaraku yang ngaku ngaku mengikuti pemahamam salafusholeh, bukan begini akhlak yang di ajarkan Rasulullah saw.  niat manusia.. ikhlas atau tidak hanya Allah yang tau, kenapa antum ber su’uzon begitu bahkan berani menyebarkan artikel beginian di internet… terlalu cepat memfonis niat orang tidak suci.  astaghfirullah al adzhim.




Januari 22, 2010 at 10:06 AM Amin Nganjuk berkata: 
Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah di dalam kitabnya Kitaabul Ikhlaash menyebutkan beberapa hal yang dianggap sebagai perbuatan ikhlash akan tetapi tidaklah demikian. Sebagian yang beliau sebutkan adalah
1. Terkadang keikhlasan bercampur dengan keinginan jiwa, seperti orang yang mengajar karena ingin merasakan nikmat dengan keindahan kata-kata, atau orang yang berperang agar pandai di dalam berperang. Ini bukan kesempurnaan ikhlash kepada Allah.
2. Terkadang seseorang membenci riya’, akan tetapi ketika dia ingat akan amal perbuatannya, ia memujinya dan sama sekali tidak melawan sikap tersebut dengan kebencian. Bahkan ia merasa senang dan merasakan bahwa itu adalah salah satu kesenangan untuknya sebagai balasan atas kepayahannya di dalam beribadah. Ini adalah salah satu macam dari macam-macam syirik khafi (syirik yang tidak tampak).
3. Terkadang seseorang melakukan riya’ bukan dengan menampakkan ibadahnya (secara langsung), bukan pula dengan ucapannya, akan tetapi dengan tanda-tanda, seperti menampakkan kelesuan, muka pucat, suara yang dilemahkan, bekas air mata, dan banyak mengantuk sebagai akibat dari banyaknya shalat malam.
4. Terkadang seorang hamba selalu melakukan ibadah dengan bersembunyi karena tidak ingin dilihat oleh orang lain. Akan tetapi muncul dalam hatinya keinginan agar orang lain memulai salam untuknya, menebarkan senyum dan penghormatan kepadanya, membantu segala kebutuhannya, bertoleransi kepadanya di dalam tingkah laku, dan memberinya tempat di dalam majelis. Jika ada seorang saja yang lalai akan hal itu, maka jiwanya akan merasa berat, seakan-akan ibadah yang dia lakukan secara tersembunyi menuntut penghormatan untuknya.
5. Terkadang seseorang merasa berat untuk melakukan Tahajjut setiap malam, tetapi ketika datang kepadanya seorang tamu, maka dia akan merasakan ringan dan mudah untuk melakukannya.
Catatan: Ini berbeda dengan sekelompok orang yang rajin melakukan ibadah karena adanya pengaruh keimanan di dalam berjamaah, dan pengaruh berjamaah yang dapat mengusir rasa malas, lemah dan hawa nafsu.
Lima point di atas Beliau kutip dari kitab Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin dengan sedikit perubahan.
Beliau juga mengatakan, “Ingatlah selalu sebuah perkataan yang sangat indah:
مَنْ شَاهَدَ فِي إِخْلاَصِهِ اْلإِخْلاَصَ فَقَدِ احْتَاجَ إِخْلاَصُهُ إِلَى اْلإِخْلاَصَ
“Barangsiapa yang menyaksikan keikhlasannya di dalam keikhlasan amalnya, maka keikhlasannya tersebut sungguh membutuhkan keikhlasan.”
Sumber: Ikhlash Syarat Diterimanya Ibadah, Cet. pertama (judul asli: Kitaabul Ikhlaash), Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah, Pustaka Ibnu Katsir, hal. 219 – 220.




Januari 24, 2010 at 12:27 PM Roland berkata: 
Assalamu’alaikum…
Ustadz Aris… ana lihat intinya dari artikel ini adalah dahi hitam bukan berarti orang soleh.
Karena itu kita bersama harus menghindari polemik selain inti di atas. Jangan sampai silang pendapat hanya karena dahi hitam ini seharusnya dihilangkan atau bentuk pendapat lainnya.




Januari 25, 2010 at 4:08 AM Kuro! berkata: 
Cara mengangkap point dr tulisan di atas yang rasanya malah jadi perdebatan. Saya setuju dengan pendapat abu zaid, bahwasanya tanda di dahi itu mempunyai 2 arti.  1) “Orang yang memiliki tanda hitam di dahi belum tentu dia adalah orang yg sholeh.” dan 2) “Dan orang yg sholeh, mungkin saja dia memiliki tanda hitam di dahinya.” Jadi, karena ada yang menilai karena judulnya ekstrim, menjadi kurang jeli menangkap pointnya.




Januari 26, 2010 at 5:59 AM abu ibrohim berkata: 
izin copy paste di perpustakaan pribadiku doktermuslim.wordpress.com




Januari 26, 2010 at 7:35 AM ustadzaris berkata: 
Untuk Abu Ibrahim
Silahkan




Januari 26, 2010 at 8:13 PM mimi berkata: 
terimakasih atas infonya. ustad di lingkungan saya bila ada orang memiliki tanda hitam di keningnya mendapatkan persepsi dari masyarakat sekitar ,orang tersebut Rajin sholat dan beribadah. ( kebodohan publik ).




Januari 27, 2010 at 10:58 PM baba berkata: 
isinya bagus cukup memberi pencerahan….  tapi judulnya gak nyambung, terlalu menyimpulkan, padahal niat orang khan gak bisa kita simpulkan..




Januari 28, 2010 at 12:49 PM indraawidiya berkata: 
assalamualikum… wah…saya gemetaran saat baca judulnya…lha dahi saya ada item-itemnya, bekas jerawat…apa iya niat saya tidak suci??? syukron…




Januari 30, 2010 at 8:29 PM irham berkata: 
Assalamu’alaikum
“Semua bagian tubuh anak Adam akan dimakan oleh api neraka kecuali tanda bekas sujud” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
Saya dapat dari artikel lain,maksudnya apa,ya?apakah berbeda dengan yang uztad maksud.Terimakasih




Januari 30, 2010 at 11:12 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Irham
Terjemah hadits yang anda bawakan itu kurang tepat. Yang benar, “kecuali anggota badan yang dipergunakan untuk sujud”.




Februari 1, 2010 at 8:34 AM muhammad ammar al kabsaani berkata: 
bismillah,,
sangat ana sayangkan seorang ustadz mengupload artikel seperti ini,,terlalu berlebihan dan kurang bijak kalau menghukumi tanda hitam di dahi sebagai ahli bidah dan tanda niat tidak suci. bahkan para ulama kibar tidak ada yang berani menyinggung hal seperti ini karena sumber2 yang ada belum cukup untuk dijadikan sebagai hujjah yang kuat. wallahua’lam. wal ‘ilmu ‘indallah




Februari 1, 2010 at 1:47 PM toko online yogyakarta berkata: 
serem amat, mending dihapus aja tuh tanda di jidat.. fitnahnya dahsyat…. berbahaya




Februari 1, 2010 at 5:28 PM Muh m Amri berkata: 
dapat referensi dari mana ustad?minta izin copy di blog saya…




Februari 15, 2010 at 10:31 AM annisa berkata: 
terimakasih dapat tambahan  pengetahuan, ngga sengaja nemu web ini, jd kubaca aja. aq muslim awam bukan ustadzah.Menurutku ngga menandakan ke aliman atau tidak alim nya seseorang bila ada tanda hitam didahi, itu hanya reaksi alami kulit yang  kering akibat tergesek benda kasar terlalu lama.
yang tahu semua yang ada dihati hanya diri kita sendiri dan Allah. kalau orang lain tau ya hanya dari perilaku dan sikapnya keseharian bukan dari dahi item. Menurutku sebaiknya biar keliatan wajah bersih dan cerah,   hitam2 dimuka sebaiknya dihilangkan, dengan rajin bersihkan wajah, kalo keluar pagi dan siang pake sunblock (tabir surya), kalo ada flek2 hitam pake retnoid acid atau diapotek bisa melanox pas malemnya.  kalo yang hitam2 didahi karna kasar rutin pake pelembab diarea itu, dan digosok waktu bersihkan muka. jadi wajah kita yang muslim2 keliatan selalu cerah dan cakep2. biar image kita sebagai orang muslim tambah naik. kan orang non muslim bisa ngeliat kita wah orang muslim bersih dan cakep2. Allah kan juga menyukai keindahan, baik keindahan  fisik dan hati.




Februari 19, 2010 at 7:08 AM abu ibrohim berkata: 
setelah me-posting artikel ini di blog ana, ad pertanyaan sebagai berikut:
Saya mempunyai pengalaman mempunyai teman2 yang mempunyai jidat yang hitam2, celana mereka pun sangat cingkrang dan mereka bangga dengan jnggot2 mereka, terus mereka selalu berkoar-koar dalam masalah orang2 yang pergi ziarah, marhabanan dan merayakan maulid nabi. Namun, yang membuat saya heran itu mereka selalu mengoleskan semacam minyak ke jidat mereka sampai hitam, bahkan terkadang terlihat seperti jidatnya itu iritasi. Nah, bagaimana dengan teman2 saya itu? Masuk golongan manakah mereka? Aq sekarang gak deket lagi sama mereka, karena sifatnya seperti sok suci gitu, bahkan waktu itu temen aq itu hampir ribut sama anak2 yang suka mabok di sekolah karena ketika mereka mabok itu teman2 saya tiba2 langsung meneriaki orang2 mabuk itu dengan perkataan LAKNATULLAH, KAFIR, NAJIS, dsb. Semenjak itu saya gak dket2 tmen aq lagi, aq ngerasa wlwpun org mbuk itu salah, tapi gak seharusnya mereka begitu, benar gak ustadz? Sorry, ane awam sama masalah begini. Jadi menurut ustadz apakah tindakan mereka benar? Atau memang pikiran saya yang masih awam tentang islam yang belum dapat menjangkau pemikiran mereka? Terima kasih…
Mohon jawabannya ustad, biar ana postingkan ke blog ana lagi
jazakumullohu khoiron




Februari 19, 2010 at 10:55 AM ustadzaris berkata: 
Untuk Abu Ibrahim
Mengoleskan minyak di jidat agar hitam adalah suatu hal yang terlarang
Mengkafirkan orang mabok secara sembrono itu tidak boleh dan tidak memberi manfaat bagi dakwah.
Tidak semua bentuk ziarah kubur itu terlarang, ada yang terlarang dan ada yang boleh.
Mengingkari bid’ah adalah suatu hal yang benar namun bisa menjadi terlarang jika dengan cara-cara yang tidak benar.




Februari 19, 2010 at 3:49 PM abu ibrohim berkata: 
ustad untuk jawaban ini “Mengoleskan minyak di jidat agar hitam adalah suatu hal yang terlarang” apa ada larangan khusus ustad?




Februari 20, 2010 at 8:20 AM ustadzaris berkata: 
Untuk Abu
Lihat perkataan para shahabat dalam tulisan di atas.




Februari 20, 2010 at 10:57 PM kent berkata: 
assalamualaikum,
saya pembaca dari seberang dan terjumpa blog ini
trima kasih pada ustaz memberi pandangan mengikut hadis n contoh teladan dari para shabt r.hum
untuk pengetahuan ustaz saya mempunyai bekas hitam di dahi
alhamdulillah saya menjaga solat 5 waktu tetapi sebagai org umum kekadang leka dan lalai,saya bukanlah org alim lg soleh, dan saya tidak mintak dan inginkan dahi yang hitam,orang ramai sering menganggap say org alim dan sebagainya,tp saya istighfar sahaje.Namun apa yang pasti tanda hitam di dahi ini menghalang saya membuat perkara yang tidak baik.mungkin hanya pada khalayak umum,tetapi saya sedaya upaya menjaga niat atas amalan saya.
Saya kerap mengusahakan untuk menghilangkan tanda hitam ini dengan menggunakan pembersih muka dan toner tapi x berjaya. Tapi saya sentiasa berdoa pada Allah sekiranya tanda ini baik untuk saya maka kekalkanlah dan sekiranya menimbulkan kemudharatan dan fitnah hilangkanlah,saya benar2 bingung selepas membaca artikel ini. Untuk ustaz dan teman tolong doakan saya untuk kekal dalm iman dan amal.
jazakallah




Februari 21, 2010 at 10:00 PM M. Zawawi berkata: 
Ass…udah lama cari artikel tentang “jidat hitam”..
baru ketemu sekarang..alhamdulillah…
so,jidat saya mulai nampak tanda2 hitam sejak saya mulai “mengenal” sholat yg “sebenarnya”, baik itu sholat wajib/sunnah..(InsyaAllah Istiqomah)
jujur aja, kadang ada beban,risih n kurang PD aja dg “tanda” tersebut…sehingga Biasany saya oleskan cream pemutih buat menyamarkannya tanda tersebut..
krn saya juga sadar, kalaw saya masih perlu banyak “belajar”,
disisi positivenya, alhamdullih dg tanda tersebut malah membuat saya menjadi lbh bisa menggendalika/menjaga diri untuk tidak melakukan perbuatan yg merugikan org lain..( Bukan sok alim )
Intinya kita kembalikan kepada niat kita masing2.. karena hanya Allah yg tau sejauh mana keikhlsan/khusyuk an kita dalam beribadah (sholat)….
Masalah ada tanda/tidak…tdk perlu diperdebatkan lebih jauh…semoga kita menjadi orang2 yang bisa menginstropeksi diri kita masing2…
Wassalam…




Maret 30, 2010 at 10:35 AM Abdul Aziz berkata: 
Syukron ustadz, saya setuju dengan tulisannya, ukuran kita beribadah bukan enak atau tidak enak, tapi didasarkan pada dalil-dalil yang kuat, dan satu hal lagi, menilai hukum Islam harus dengan alat penilainya itu sendiri, yaitu qur’an dan hadits, biar nyambung gitu….. wasaam




April 11, 2010 at 11:15 PM diks berkata: 
Bismillah,,
ana hamba ALLah yang tak sedikitpun menyerupai pengetahuan ustadz sekalian. Sebagai hamba awam, ana sungguh merasa bimbang dengan problematika mengenai bercak hitam yang nampak di dahi atau kening seseorang. Mungkin itu salah satunya ana. Semenjak kelas 3 SMK, ALLah SWT berikan sebuah semangat untuk tekun dalam menjalankan ibadah utamanya shalat, tak jarang memang teman2 menanyakan tentang bercak hitam yang semakin lama semakin terlihat. Mungkinkah ini sebuah pertanda jika niatan ana selama ini belum termasuk tulus dan ikhlas karena ALLah, dan itu sudah lebih dari 2 tahun yang lalu. Mohon penjelasannya, jikapun berkenan ana berharap langsung ke alamat email diks_a1988@yahoo.com. InsyaALLah, sepenuh hati ana terima jika itu demi kebaikan ke depan. Syukran JzkLLah!




April 12, 2010 at 4:18 PM ustadzaris berkata: 
Untuk diks
Saya sarankan agar dihilangkan dengan cream atau yang lainnya.




April 15, 2010 at 10:55 PM vyatri berkata: 
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu ustadz
Ada laki-laki yang pernah berkisah. Ia kesulitan bersujud dengan lutut 90 derajat hanya dengan tumpuan tangan (mungkin karena bentuk tubuhnya). Akhirnya tumpuan kepalanya yang utama adalah pada dahi sehingga mudah sekali menghitam dan kadang berjerawat. Bagaimana saran ustadz untuk orang ini? Apakah cukup dirawat saja atau ada yang perlu dibenahi dari posisi shalatnya?
Jazakumullahu khair




April 16, 2010 at 9:03 AM ustadzaris berkata: 
Untuk Tri
Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarokatuh
Cara sujud yang benar, paha dijauhkan dari perut alias tidak menempel ke perut, tidak harus membentuk sudut 90 derajat.




April 16, 2010 at 3:03 PM nursia berkata: 
ustadz, mohon ijin artkelnya u kami sharing ke teman2 kami yah.
salam




April 16, 2010 at 5:10 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Nursia
Silahkan




April 24, 2010 at 9:21 PM hotel di malioboro berkata: 
posisi paha 90derajat memang sulit utk bertumpu pada kedua tangan. makanya kebanyakan mengandalkan jidat untuk menahan beban berat tubuh




181 Comments


April 25, 2010 at 6:59 PM ali aziz berkata: 
kayak aku dulu
pernah hampir ada tanda hitam di dahi
bingung cara menghilangkannya
g enak ma temen2,,nti dikira sok alim




Mei 19, 2010 at 11:41 PM Fattah berkata: 
Ustadz, mohon penjelasannya apakah hitam di mata kaki sebelah kiri atau hitam di permukaan kaki (dekat dengan mata kaki) sebelah kiri juga merupakan tanda niat yang tidak suci? Kebetulan saya termasuk yang mempunyai “hitam” di dahi, tapi hal tersebut muncul dengan sendirinya tanpa dibuat-buat. Kemudian saya juga survei ke teman-teman muslim, kebetulan 100% mempunyai hitam di kaki bekas salat. Apakah bekas di kaki dapat dianalogikan dengan bekas di dahi? Jazakallah khairan…




Mei 20, 2010 at 5:37 AM ustadzaris berkata: 
Untuk Fattah
Yang dibahas dalam tulisan di atas adalah hitam di dahi, bukan hitam di kaki.




Mei 21, 2010 at 2:47 PM isawand ikiay berkata: 
manusia harus banyak belajar tentang islam,bagaimana rukuh dan sujud dengan baik. Paling banyak mereka salah memahami kebanyakan dahi2 mereka kehitaman,moga aja mereka selalu bertanya kepada yang ahli




Mei 22, 2010 at 3:04 PM Syahidah berkata: 
Trimakasih atas penjelasan ustadz, sangat bermanfaat bagi ana dan semoga bagi semuanya. Dulu ana sempat bingung, kok dahi teman-teman bisa hitam??? ana berkhusnudhon mungkin mereka sujud di sepanjang akhir malam atau sujud di lantai yang cukup panas atau dingin. Dengan polos, ana sempat bertanya pada 2 sahabat (yang berdahi hitam) tetang bagaimana sujud mereka (karena sebelumnya ana pernah sholat berjamaah dengan mereka berdua, namun menurut ana sujud mereka biasa saja, hanya sedikit lebih lama dan menekan). Karena kejahilan, ana sempat mencoba sujud seperti mereka, karena dari awal merasa tidak nyaman, maka seketika itu ana tinggalkan gaya sujud itu. Karena kejahilan pula, ana sempat membandingkan dahi seorang ustadzah (karena ana akhwat) dengan dahi teman-teman ana. Saat ditawari menginap 1 minggu di rumah ustadzah (karena ustadz sedang dauroh ke luar kota), ana diam-diam mengamati sujud beliau (tapi belum berani tanya2 ^_^). Beliau sujud lama di akhir roka’at dan terutama saat qiyamul lail, namun dahi beliau tidak hitam. Ingin rasanya ana bertanya langsung, tapi ingin mencari wawasan dulu agar penjelasan beliau nanti lebih mudah ana mengerti (maklum, ana masih miskin ilmu, jadi kadang banyak istilah dalam forum kajian/diskusi yang belum bisa ana mengerti sebelum membaca ulasan yang pilihan katanya mudah). Dan sebelum keinginan itu terealisasikan, alhamdulillah… ana dapat penjelasan dari ustadz. Jazakumalloh khoiron katsir…
Tetap SEMANGAT menebar manfaat! ^_^




Juni 1, 2010 at 11:47 PM salam ustaz..minta izin copy n paste kat blog saya... berkata: 
salam ustaz..minta izin copy n paste kat blog saya…




Juni 2, 2010 at 1:20 PM ustadzaris berkata: 
Silahkan.




Juni 16, 2010 at 2:36 PM Ali berkata: 
Ustadz, di dahi saya di dekat pangkal rambut muncul kehitaman seperti yg dipaparkan di atas.  Padahal sujud saya biasa saja.  Mungkinkah itu penyakit kulit? Apakah dengan paparan di atas, brarti saya harus berupaya untuk menghilangkannya?
Syukran…




Juni 16, 2010 at 3:09 PM ustadzaris berkata: 
Untuk Ali
Perlu dihilangkan.




Juni 30, 2010 at 4:41 PM fathma dewi monalisa hamim berkata: 
Assalamu’alaykum…mohon ijin share ya ustadz…maturnuwun




Juni 30, 2010 at 11:50 PM ustadzaris berkata: 
Untuk dewi
Wa’alaikumussalam
Silahkan.




Juli 31, 2010 at 1:22 PM riyanto berkata: 
Assalamu’alaikum… Ustadz. mohon ijin copy artikelnya.  syukron




Agustus 2, 2010 at 2:48 PM Dzar berkata: 
bismillah….
izin share ya ustadz
jazakumullohu khairan




Agustus 8, 2010 at 5:47 AM ibnufauzy berkata: 
Sukron penjelasannya Ustadz, namun jika tanda itu muncul sendiri bagaimana? karena banyak ustadz senior yang dahinya hitam, padahal mereka belajar pada syaikh. apa mungkin ilmu ini belum sampai kpd mereka?




Agustus 8, 2010 at 12:29 PM ustadzaris berkata: 
untuk ibnu
Boleh jadi mereka belum tahu.
Bukanlah syarat untuk menjadi syaikh atau ustadz harus tahu semua hal tentang agama.




Agustus 14, 2010 at 11:20 PM Mahar berkata: 
Assalamu’alaikum…ustadz, mohon izin copy dan paste artikelnya.syukron




Agustus 15, 2010 at 10:06 AM ustadzaris berkata: 
untuk mahar
Wa’alaikumussalam
Silahkan




September 8, 2010 at 11:20 AM najmi berkata: 
ustad ijin copas ya.
sukran




September 25, 2010 at 2:22 PM Ahmad berkata: 
Ustadz, ijin copas untuk catatan. sukron




September 25, 2010 at 4:52 PM Abu ayu berkata: 
Ustadz, saya ingin menanyakan tentang derajat hadist no 3698 s/d 3702 di kitab sunan kubro al baihaqi.
saya telah mencari hadist no tersebut di sunan Al baihaqi di kitabussolah, ternyata isinya tentang sujud sahwi. sedangkan yang dr ustad tentang bekas sujud. apakah snan al baihaqi berbeda dengan sunanul kubro karya al baihaqi?
mohon penjelasannya. syukron.




September 25, 2010 at 5:12 PM dfk.abdurrahman berkata: 
assalamu’alaikum.ustadz,mhn izin share,njih.
jazakumullaahu khoiron




September 25, 2010 at 5:47 PM dfk.abdurrahman berkata: 
1.sudah sangat jelas bagi saya.kesaksian ibnu umar diatas,rasulullaah,abu bakar,umar&utsman saja tidak punya tanda hitam di dahi.padahal mutu maupun kuantitas ibadah sholat mereka jauh lebih bagus dari kita.
2.jika demikian,apakah pantas bagi saya untuk membiarkan tanda hitam di dahi saya,padahal jelas itu bukan perkara yang menyulitkan saya.
3.jika saya memang benar2 menjaga keikhlasan ibadah sholat saya,tentu saya akan merasa terganggu dengan tanda hitam di dahi sy.dan malu pada rasul dan sahabatnya.




September 26, 2010 at 4:23 PM ustadzaris berkata: 
#dfk
silahkan




September 26, 2010 at 4:24 PM ustadzaris berkata: 
#abu
al Baihaqi punya dua sunan, sunan sughro dan sunan kubro




September 26, 2010 at 4:26 PM ustadzaris berkata: 
#ahmad
silahkan




September 30, 2010 at 2:50 PM Setyawan berkata: 
Ustadz Ane izin copas buat Milis kantor,,,,




Oktober 19, 2010 at 1:15 PM abu dzaky berkata: 
Afwan Ust. dari judul di atas dimaksudkan orang yang memiliki hitam di dahi tanda niat tidak suci ato ciri2 orang khawarij??? apakah benar demikian maksudnya ust.??? walaupun bukan parameter kebenaran, ana meliat beberapa ust. & syaikh utsaimin ada tanda hitam di dahinya… afwan ust. mohon penjelasannya… syukron.




Oktober 19, 2010 at 10:50 PM ustadzaris berkata: 
#abu
Kedua-duanyalah yang saya maksudkan




November 2, 2010 at 9:01 PM sayurhaseum berkata: 
tanda hitam di dahi bisa jadi sebagai tanda bekas sujud dan tidak diperbolehkan pula kita syu’udzhan terhadap yang memiliki tanda hitam di dahi tersebut, akan tetapi adalah memiliki tanda hitam di dahi menjadikan godaan keikhlasaan teramat berat karena bukan hanya ketika berjalan di muka bumi berinteraksi dengan manusia sedangkan ketika bercermin keseorangan diripun syetan tetap menggoda dengan membuat kita bangga atas tanda hitam tersebut. dan sebagaimana sunnah para sahabat sesungguhnya wajah kita lebih baik tanpa kapal kecuali bagi mereka yang ingin mempertontonkan tanda tersebut. kalau boleh saran : “Pakai Ponds Pemutih atau Nivea atau Citra atau yang murah pake hazelin hormone” he he ana rasa memakai pelembab muka ini tidaklah dikategorikan tasyabbuh dengan kaum hawa.
ana rutin memakai cream muka jadi setiap kali tanda hitam itu muncul dengan mudah terkelupas. menghilangkan sejak dini lebih mudah dibandingkan kalau tanda hitam tersebut sudah benar-benar menebal seperti terkena air keras.
jadi jangan ragu untuk memperindah wajah anda dengan menggunakan cream muka. gunakan PONDS Whaitening.




November 4, 2010 at 6:50 PM abu hafsh berkata: 
ustadz ana izin copas semua artikel antum




November 5, 2010 at 12:38 AM ustadzaris berkata: 
#abu
Silahkan




November 7, 2010 at 5:05 AM abu azhar berkata: 
ustadz ana izin copas




November 11, 2010 at 11:18 AM abu hatym berkata: 
Assalaamu ‘Alaykum Warohmah,
Ustadz Semoga antum dalam keadaan sehat wal ‘afiat…
ana minta Izin untuk copas artikel2 antum
Jazakallahu khayr wabarokallaah





Desember 10, 2010 at 10:56 AM OKEY berkata: 
Saya salut sama ust.Aris yang berani berbeda pendapat dengan ustadz/syaikh lain yang dahinya hitam. BENAR-BENAR TEGAR DI ATAS SUNNAH. semoga Alloh ta’ala memberi istiqomah pada ustadz. Maju terus Ustadz…




Desember 12, 2010 at 10:58 AM Silmi Nathar berkata: 
Assalamualaikum Wr.Wb.
Ini info baru buat saya. Trimakasih Ustaz telah postingkan hal ini. Selanjutnya saya tertarik dengan pengalaman sdr. sayurhaseum “Pakai Ponds Pemutih atau Nivea atau Citra atau yang murah pake hazelin  hormone”, krn lebih memberi solusi. Saya yakin sebagian besar saudara kita yang memiliki dahi hitam krn sujud bukan lantaran riya’ melainkan timbul dengan sendirinya (wajar) namun tdk tahu info di atas sehingga tdk berusaha menghilangkannya. Sebagaimana saya yakin juga Ustaz yg tdk memiliki dahi hitam itu bukan berarti terhindar dari kemungkinan dahi menghitam melainkan ada usaha agar dahi tdk menjadi hitam. Setahu saya, dahi hitam lebih karena posisi sujud dengan tekanan berulang di permukaan kulit yang sama (sebagaimana pada kulit lutut dan mata kaki), juga krn tidak ada usaha menghilangkannya. Wallahu a’lam. Terimakasih Ustaz. Wassalam




Desember 18, 2010 at 4:19 AM Abu Ibrahim berkata: 
Segala puji bagi Alloh yg memiliki ilmu…..
Sebuah ilmu yg  sangat bermanfaat Tadz…..Bagaimana yah’ ustadz2 salaf yg lain tdk mengetahui hal ini bahwasannya para sahabat Rasullulah saja yg Alloh rido padanya bersih dari tanda sering sujud diwajahnya. Mudah2an ilmu yg Ustadz sampaikan ini sampai kpd Ustadz2 salaf yg lain yg mengikuti pemahaman para sahabat, sehingga diikuti oleh para jamaahnya dan wajah2 kita menjadi bersih  semua sesuai takdirnya. 
Jazakallah Tadz




Desember 20, 2010 at 9:42 AM mike duyeh berkata: 
assalamu `alaikum
menarik kajiannya, saya coba lihat ayat yang jadi pijakan sebagian orang:
… fii wujuuhihim min atsaris-sujuud (pada wajah-wajah mereka berupa bekas sujud) tapi ayat tersebut tidak bisa diartikan pada dahi dahi mereka, kecuali ayatnya berbunyi … fii jibaahihim min atsaris-sujuud.
segitu dulu, kalo ada salah, koreksi aja. syukron




Desember 31, 2010 at 11:53 PM ismail bin ahmad rahman berkata: 
Aku berlindung dari ilmu yg tdak brmanfaat dan doa yang tidak Engkau dengar…sampaikanlah satu ayat walau ianya pahit…jazakumullah ya akhi




Januari 4, 2011 at 9:35 AM hayy berkata: 
izin share ye…
terima kasih*




Februari 4, 2011 at 9:52 PM KHAIRUL HISHAM BIN HASSAN berkata: 
Imam Fakhruddin Al-Razi menyatakan terdapat dua pendapat dalam mentafsirkan tanda ini ( At-Tafsir Al-Kabir, 28/93 ) :- 
Pertama : Tanda itu akan ternampak di akhirat kelak sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 106 ” Di hari yang Allah memutih dan menggelapkan wajah” dan juga dari surah At-Tahrim ayat 8. 
Kedua : Tanda ini akan terzahir di dunia lagi. Terdapat dua kemungkinan yang disebut, 
a)      Bekas sujud ini adalah tanda hitam di dahi. Namun perlu diingat ada sebahagiannya memang hitam kerana banyaknya sujud, namun banyak sujud belum tentu diterima solatnya. Manakala ada yang hitam sebab-sebab lain. 
Justeru secara umumnya, tanda hitam di dahi, boleh membawa erti tanda sujud yang banyak dan lainnya. Jika tanda sujud itu diiringi dengan sifat-sifat mahmudah dirinya dan wajahnya yang menepati ciri kedua di bawah, lalu ia kemungkinan besar tanda yang benar. 
b)      Satu tanda yang Allah zahirkan di wajah orang yang sujud dari raut yang bercahaya, kelihatan tenang dan menyenangkan. Tanda inilah yang disebut terdapat pada wajah Baginda Nabi S.A.W, para sahabat dan lain-lain ulama.




Februari 5, 2011 at 6:47 AM Qosym berkata: 
assalamu’alaikum….
ustadz izin share ya…..syukran..




Februari 10, 2011 at 12:48 AM Ibnu Mz berkata: 
Sudah cukup lama saya gelisah dengan tanda hitam di dahi saya. Saya tidak pernah menyengaja memunculkan tanda hitam itu. Setiap kali membaca/mengingat hadits tentang khawarij, saya makin gelisah dan sedih. Kadang-kadang saya sangat “minder” berada di dekat para ustadz dan kawan2 dalam majlis ta’lim gara2 tanda hitam di dahi saya. Pada dahi mereka tidak ada tanda hitam itu (atau kalau pun ada, sangat tersamar) . Pada saat sujud pun, hati saya jadi tak tenang karena khawatir menambah kuatnya tanda hitam itu. Hingga sujud saya kadang2 saya ringan2kan.
Membaca jawaban ustadz Aris tentang hal ini, makin mebuat saya gelisah. Saya merasa kesulitan menghilangkan tanda tersebut (padahal kulit saya termasuk berwarna gelap/hitam, tetapi tanda itu masih juga tampak jelas).
Mohon nasihat agar kegelisahan dan was-was hati saya tidak berkepanjangan. Dan bagaimana bila tanda itu tidak bisa/sulit dihilangkan?
Selain saran dari akhi sayurhaseum, apakah ada yang punya “resep” lain yang bisa dengan cepat menghilangkan tanda hitam tersebut?
Jazakumullahu khoyron





Februari 17, 2011 at 11:55 AM @ris berkata: 
Assamu’alakum…, ijin ngopy artikelnya pak ustadz




Maret 3, 2011 at 9:37 AM ISS Guci berkata: 
Assalamu’alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.
Setuju ya ustadz, tanda hitam bekas sujud malah khawatir menjadi riya’ dan sum’ah, dan dijelaskan oleh ibhu Abbas radhiallahu anhu melihat tanda itu pada wajak bekas sujudnya kaum khawarij




Maret 5, 2011 at 8:49 PM Abdul Aziz berkata: 
Assalamu’alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuh. Izin share Ustad, Jazakumullah




Maret 6, 2011 at 8:00 PM izzannara berkata: 
assalammu’alaikum
saya termasuk orang yang tidak terlalu paham dengan hadits
sebelum membaca artikel ini saya beranggapan laki2 yang dahinya hitam itu orang-orang sholeh..ternyata e ternyata…
makasih atas ilmunya




Maret 28, 2011 at 9:36 AM luqman berkata: 
Assalamu,alaikum afwan mungkin artikel ini bisa jadi perbandingan  http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/03/apakah-tanda-hitam-di-dahi-merupakan.html




April 13, 2011 at 9:45 AM Rachmad berkata: 
Assalamu’alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuh. Izin share Ustad, Jazakumullah




April 27, 2011 at 6:37 PM abu sholeh berkata: 
assalamu’alaikum
sebuah hal baru yang saya dapati dari artikel itu, dan membuka mata saya
akan tetapi apakah tanda hitam di dahi itu adalah sebuah kepastian bahwa orangnya khawarij dan niat tida suci?? kalau orangnya tidak tahu bagaimana ustad?
Dan memang benar bisa beresiko membuat riya’, dan berdasar dalil di atas maka saya akan berusaha mengubah/menghilangkan noda hitam ini
selama ini saya biarkan (saya bersihkan alakadarnya tiap mandi) tetapi tetap saja hitam

dab apakah tanda hitam ini sebagai arti bahwa posisi sujudnya salah/berlebihan kah ya ustad?




Mei 22, 2011 at 9:30 AM Subagio Al Abiyyu berkata: 
Assalamualaikum wr wb, terimakasih Ustadz saya dapat pencerahan hari ini.
mohon share yah Ustadz
Wassalam




181 Comments


Mei 30, 2011 at 11:07 PM Abdul Malik berkata: 
Alangkah baiknya jika sholat sujudnya ditempat yang lembut, jangan ditekan ke tanah, insya alloh tanda hitam ngak ada. Wallahu’alam




Juni 10, 2011 at 7:44 AM muh.yunus berkata: 
assalamu’alaikum..ustadz izin share ya ustadz,semoga artikel ini bermanfaat buat ana pribadi dan selurus kaum muslim dimana berada,,semoga ALLAH senantiasa melimpahkan rahmad dan hidayahnya kepada ustadz skeluarga dan dalam lindungannya…




Juni 20, 2011 at 7:54 AM yuli prasetyo berkata: 
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Subhanallah, tks ustadz, Alhamdulillah bertambah lg ilmu sy. Mohon izinkan sy utk share ya ustadz. Tks. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.




Juni 26, 2011 at 6:57 PM محمد سهلان رشيدى berkata: 
ilmu yang belum pernah terfikirkan selama belajar…
terimakasih atas ilmunya




Juli 8, 2011 at 5:57 PM Sunaryo berkata: 
Ijin Share ya tadz…




Juli 24, 2011 at 11:50 PM jabotabekinfo berkata: 
Assalamualaikum.
ijin copas buat blog ane ya tadz. 
Thnk you. 




Agustus 5, 2011 at 4:24 AM naritma berkata: 
Trmkasih ustad atas ilmunya, akhirnya menjawab apa yang terjadi pada saya, sekitar Juni lalu sy merasa sakit kepala luar biasa selama 3 hari, di hari ke empat tiba-tiba ada muncul tanda bulat hitam sebesar bulat jari kelingking di tengah kening, sy kwatir itu sejenis kanker, tapi dokter bilang bukan penyakit kulit, lagi pula tidak terasa apa2, sudah pakai pemutih tidak juga hilang, sy pasrah saja tapi sy terganggu dengan anggapan teman dan tetangga bahwa itu tanda bekas sujud, istilahnya cap mushalla karena jelas sekali sujud (ibadah) sy masih sangat kurang dibanding orang-orang lain, terus terang ke mesjid juga jarang, anggapan tersebut  jadi beban juga, tapi penjelasan di atas membantu saya menerangkan hal tsb pada orang lain.




Agustus 5, 2011 at 12:58 PM indah berkata: 
Subhanallah.
ustad, aku mohon izin untuk share ya




Agustus 5, 2011 at 1:01 PM indah berkata: 
ustad, izin share artikel ini ya




Agustus 7, 2011 at 9:30 AM Aray berkata: 
Subhanallah !!!!!!!!!!!!!
mohon izin untuk share ustadz,,,,,,,
banyak yg belum baca haditz diatas dan banyak yang ikut2an karena tidak tau.




Agustus 23, 2011 at 11:37 PM swara berkata: 
assalamu’alaikum
sungguh suatu anugerah bahwasanya saya bisa menemukan blog ini. Terima kasih Ustad karena sangat bermanfaat utk saya dan juga saudara saudara saya. izin share 




Agustus 25, 2011 at 3:12 PM Zahroh berkata: 
baarokallahu fi ya syai zaman syaikhonaaa
sekedar usul alangkah baiknya permasalahn ini juga di tanyakan kepada masyayikh kibar zaman ini biar nggak terjadi salah faham dan semakin jelas permasalahannya!
dan mohon izin copy. jazakumullahu khoiran




Agustus 25, 2011 at 3:45 PM Zahroh berkata: 
mohon izin copy





Agustus 27, 2011 at 7:33 AM yusmin berkata: 
subkhanalloh penjelsan yang mencerahkan hati, ada hadits yang jelas dan atsar yang menyejukkan ruhani




September 11, 2011 at 9:39 AM Abu Darda berkata: 
Alhamdulillah akhirnya menemukan pembahasan mengenai tanda hitam di dahi, semoga Allah menjaga kita semua dari penyakit riya dan memperbaiki kita untuk tdk terjerumus kepada hal itu ….Hamba memohon ampunan dan berlindung dari Riya baik yg disadari maupun tdk amin




September 24, 2011 at 1:37 PM Abu Qonita berkata: 
Mohon izin Ust, ane copy




Oktober 19, 2011 at 9:40 AM Halifah berkata: 
Subhanallah, mksh atas penjelasan ustadz karena selama ini saya slalu berfikir tanda hitam itu muncul karena benar2 khusyu’ saat sujud diwaktu shalat,,, smg Allah memberi petunjuk untuk kita semua.Amin Ya Rabbal ‘alamin.




Oktober 20, 2011 at 3:16 AM SHAMSUDIN berkata: 
Mohon izin Ust, ane copy




Oktober 29, 2011 at 2:43 PM riduan berkata: 
Alhamdulillah… tambah ilmu ku..




November 4, 2011 at 9:23 PM faisal berkata: 
penjelasan bagus bagus banget, tapi tlong jelaskan sujud yg proposonal itu bagaimana..???




November 6, 2011 at 5:10 PM ustadzaris berkata: 
#faisal
http://ustadzaris.com/sujud-dengan-menekan




November 15, 2011 at 1:29 AM Wiwit Fitrianto berkata: 
Assalamu’alikum..
Subhanallah… Pak Ustadz,,,,saya bukan bermaksud riya,tetapi di dahi saya juga ada noda hitam di kening.. Awalnya saya tidak mempermasalahkan tanda ini, namun lambat laun mengakibatkan ada sedikit rasa yang tidak enak dari diri saya terhadap saya sendiri..(mohon maaf bahasa kalimatnya aneh ya,Pak Usatadz..). Ditambah saya membaca pencerahan dari Pak Ustadz ini, waduh… saya tambah bingung dengan tanda di kening saya harus bagaimana..
Sekali lagi,saya mohon pencerahan dari Pak Ustadz..
Suwun
Wassalam




November 16, 2011 at 12:20 PM Andi berkata: 
assalamkum wr wb
ijin share y ustadz, masykur




November 27, 2011 at 8:17 PM handi berkata: 
Subhanallah… lengkap sekali dan jelas sekali… moga2 para pemimpin umat dalam menyampaikan ilmu dan pendapatnya selalu didasarkan kepada al-quran dan atau Hadits Rasul seperti ini.




November 28, 2011 at 12:44 PM Ari CS berkata: 
Assalamu’alaikum..Bismillah,Terima kasih ustadz atas tambahan ilmunya..mohon izin copy artikelnya ya ustadz..




November 30, 2011 at 9:04 PM Tri Sugianto Rahmat berkata: 
Assalamualaikum Uztadz Aris…
Mohon izin share
Pengetahuan yg sangat bermanfaat… dan saya perlu pemutih kulit, saya merasa shalat saya biasa2 aja sesuai seperti seharusnya tidal terlalu di tekan2 apalagi sampai digosok2.
tadinya saya sempat risau dgn tanda tersebut dan saya fikir akan hilang dgn sendirinya, ternyata lama2 semakin gelap tandanya.
Saya fikir ini memang sudah resikonya (krn belakangan ini saya perbanyak shalat sunnah), akhirnya saya biarin aja. walaupun kadang jadi malu krn dileledekin sama teman2 krn jidat ini bertanda.
Sekalai lagi terimaksih.
wa’assalamualaikum





November 30, 2011 at 9:12 PM Tri Sugianto Rahmat berkata: 
Assalamu’alaikum Uztadzaris,
Mohon izin share

Trimakasih atas ilmunya, saya punya problem yg sama seperti sdr. Ibnu Mz.. utk sayurhaseum trimaksih sarannya.

Wa’asaalamualaikum




Desember 2, 2011 at 2:13 AM Ahmed Khairul Fareed berkata: 
Assalamualaikum ustadz.. BaarakAllah feek wa JazaakAllah khairan atas pencerahan ini.. Ini pertama kali ana mendengar pembahasan ini, Masya Allah..
ustadz, izinkan ana berkomentar tentang atsar dibawah ini,
 عَنْ أَبِى عَوْنٍ قَالَ : رَأَى أَبُو الدَّرْدَاءِ امْرَأَةً بِوَجْهِهَا أَثَرٌ مِثْلُ ثَفِنَةِ الْعَنْزِ ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا بِوَجْهِكِ كَانَ خَيْرًا لَكِ.
Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700). 
ثفنة . جمع : ثفنات .: 
1 – من الدابة: الجزء الذي يصيب الأرض من جسمها فيغلظ. 2 – ركبة. 3 – من الخيل: موصل الفخذ في الساق من باطنها. 4 – جماعة من الناس.
المعجم: الرائد
Jadi, menurut ana, wallahu a’lam, yang zohir dari arti tsafinah adalah tanda bekas (hitam) di lututnya binatang berkaki empat disebabkan seringnya dia duduk di atas tanah.. adapun kapal, maka, wallahu a’lam, dalam arab safinah dengan huruf ‘sin’ bukan ‘tsaa’..
ini, wallahu a’lam hanya yang ana tahu.. jika ana tersilap, ana harap diluruskan melalui email ana yang diberikan di atas..
baarakAllah feekum.. 




Desember 2, 2011 at 10:45 AM ustadzaris berkata: 
#ahmed
tanda bekas (hitam) di lututnya binatang berkaki empat disebabkan seringnya dia duduk di atas tanah.. ini dalam bahasa JAWA disebut dengan kapal atau kapalen.
Jadi kapal di sini tidak ada hubungannya dengan safinah.




Desember 5, 2011 at 12:19 PM Anshor berkata: 
Ikhwati… larangan dlm nash2 di atas adalah menyengaja utk menjdikn jidad hitam saat sujud.. adapun jika tidak ada unsur kesengajaan.. maka tidak mengapa.. Apakah 3 imam tabi’in yg punya jidad hitam krn atsar sujud juga dikenakan hadits2 di atas itu..??

Abu Mu’awiyah :
وقال أبو معاوية المغربي : رأيت عطاء بن أبي رباح بين عينيه أثر السجود 
“Aku melihat Atho’ bin Robbah ada bekas sujud di antara dua matanya.”
(Lihat at Thobaqot al Kubro : 5/469)
=====
Abdurrohman bin Abi Bakr al Maliki :
قال عبد الرحمن بن أبي بكر المليكي : رأيت طاوسا وبين عينيه أثر السجود
“Saya melihat Thowus dan di antara kedua matanya ada tanda sujud.” (Ada pula di Majallah Dauriyah, ma’aha Mulhaq Bitarojim al A’lam wal Amkinah, bab : Thowus)
=====
Ibnu Abid Dun-ya dlm kitab al Khulafaa’  : 
قال ابن أبي الدنيا في كتاب ” الخلفاء ” : صلبوا ابن الزبير منكسا ، وكان آدم ، نحيفا ، ليس بالطويل ، بين عينيه أثر السجود . بعث عماله إلى المشرق كله والحجاز
“Mereka mensalib Ibnu Zubair setengah tiang.. beliau berkulit sawo matang.. kurus.. tidak tinggi.. dan di antara kedua matanya ada tanda sujud.. dia pernah mengutus pekerjanya ke seluruh Masyriq dan Hijaz..”
=====

Wallahu a’lam..




Desember 7, 2011 at 9:29 PM andri berkata: 
Alhamdullilah.